Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Membentuk Karakter Kreatif dan Produktif melalui Siklus Belajar

Posted by Mahmuddin pada November 9, 2007

Nasib pendidikan di Indonesia berada di persimpangan jalan. Pemerintah menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang berkualitas dan pada saat yang bersamaan menetapkan standar kelulusan secara nasional melalui Ujian Nasional. Hal ini diperparah lagi adanya target kelulusan dengan persentase yang tinggi oleh pemerintah kabupaten. Bagi sekolah unggulan yang menetapkan standar kualitas inputnya, why not! Tetapi bagi sekolah yang menerima anak  hanya sekedar memenuhi kewajiban belajar sembilan tahun, Banyak Jalan menuju Roma!.

Disadari atau tidak, energy kreativitas guru saat ini tersedot banyak untuk menyiapkan anak lulus ujian nasional. Apalah artinya pembelajaran yang berkualitas kalau toh dalam ujian nasional anak tidak lulus!. Beberapa sekolah bahkan melibatkan pihak luar (baca: Bimbingan belajar) untuk melatih anak mengerjakan soal-soal latihan di luar jam sekolah. Kondisi ini, menyebabkan orang tua terbebani dengan biaya sekolah tambahan, anak terbebani dengan jam belajar tambahan pada saat mereka seharusnya bermain. Anak terpaksa harus menanggung beban stress yang tinggi. Sebuah kenyataan yang sulit diterima oleh nurani para penerus perjuangan Ki Hajar Dewantara, demi memenuhi target politis pemerintah dan opini konservatif masyarakat yang menjadikan kelulusan sebagai satu-satunya indikator kualitas sebuah sekolah dan seorang anak bangsa.

Pendidikan harus dikembalikan pada kithahnya. Di dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Bab II/Pasal 3) menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Sains sebagai mata pelajaran yang memberikan pengalaman pembelajaran cara berpikir dari suatu struktur pengetahuan yang utuh, dapat menjadikan undang-undang sebagai starting point dalam pengembangan pembelajarannya. Sains menggunakan pendekatan empiris yang sistematis dalam mencari penjelasan alami tentang fenomena alam. Dengan demikian, pembelajaran sains menjadi wahana dalam menyiapkan anak sebagai anggota masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan dan mengkaji solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Prinsip pembelajaran sains adalah mengeksplorasi fakta-fakta aktual, di mana anak dapat belajar merespon informasi terbaru dan melakukan eksperimen untuk menguji hipótesis, yang memberikan ruang bagi anak agar dapat mengembangkan kemampuan menganalisa, mengevaluasi dan mencipta. Dengan fakta yang ditemukan, anak dengan segala potensinya hendaknya dapat menggagas sebuah solusi kreatif dengan mengonstruksi sebuah fakta baru.

Belajar menjadi Produktif dan Kreatif

Survey yang dilakukan oleh Kay (2006) tentang expectation from industry melaporkan bahwa skill yang dibutuhkan sebagai kekuatan untuk menunjang kesuksesan dunia kerja pada lima tahun ke depan adalah critical thingking (78%), IT (77 %), Collaboration (74%), inovation (74%), health and weallness (76%), personal   financial responsibility (72%), Diversity (67%), Entrepreneurial skill (61%), understanding u.s. economic issues in global economy (61%). Data tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan kemampuan berpikir bagi anak sebagai bekal hidup. Anak harus dilatih untuk berpikir kritis terhadap setiap fakta yang ditemukan. Cermat dalam menemukan masalah dan kreatif dalam menggagas solusi penyelesaiannya.

Di dalam sistem pendidikan nasional, sebuah kompetensi dapat dicapai dengan tiga indikator yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap. Artinya, bahwa anak belajar dengan subject, supaya menjadi tahu, dapat melakukan dan menjadi perilaku yang tercermin dalam keseharian hidup.Belajar berarti melakukan proses berpikir. Belajar tidak cukup hanya sekedar tahu, menguasai ilmu dan menghafal semua teori yang dihasilkan orang lain. Dengan demikian, pembelajaran hendaknya melatih anak mengembangkan kemampuan berpikir (thinking skills).

Struktur kognitif yang menjadi prinsip dalam  educational objectives dibangun melalui enam tingkatan berpikir yang dikembangkan oleh Lorin Anderson (2001) sebagai revisi atas taksonomi bloom (1950). Keenam tingkatan berpikir yang dimaksud adalah mengingat (remembering), memahami (understanding), mengaplikasikan (applying), menganalisa (analysing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).

Pembelajaran seringkali terlena dalam tiga tingkatan pertama (low order of thinking) sehingga berdampak pada pengerdilan potensi anak, pada hal setiap anak lahir dengan membawa potensi yang luar biasa. Tantangan masa depan menuntut pembelajaran harus lebih mengembangkan tiga tingkatan akhir berpikir yang disebut dengan keterampilan berpikir kreatif dan kritis (high order of thinking.) Menurut Anderson (2001), Mengevaluasi ditempatkan sebagai kategori utama dalam pengembangan berpikir kritis. Seseorang dapat menjadi kritis tanpa harus kreatif, tetapi produk kreatif seringkali membutuhkan pemikiran kritis. Oleh karena itu, Creating diletakkan sebagai tingkatan akhir yang harus dicapai dalam proses belajar dan berpikir anak.

Belajar bukan sekedar menemukan fakta, dan mengkonstruksinya menjadi sebuah pengetahuan. Menurut Pebruanto (2007), di dalam concept based curriculum mengisyaratkan ada 3 konsep belajar yaitu, belajar melebihi fakta (learning beyond the facts), belajar bagaimana berpikir (learning how to think), dan belajar bagaimana menemukan dan mengkonstruksi fakta baru (learning how to find and construct new facts). Suatu pengetahuan dianggap benar hanya bila dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai (Suparno, 1997).

Untuk dapat membentuk watak kreatif dan produktif pada diri anak, maka pembelajaran perlu melatih menemukan masalah. Di dalam proses penemuan masalah anak dapat melakukan eksplorasi fakta, mengidentifikasi  pola-pola atau hubungan antara situasi yang tidak terkait secara jelas, serta dapat menggunakan pertimbangan yang kreatif, konseptual atau induktif. Selanjutnya anak hendaknya dilatih mencari solusi kreatif dan mewujudkannya dalam sebuah karya produktif. Jadi belajar membuat anak berlatih menjadi produsen.

Sebuah contoh yang dapat digambarkan bahwa ketika belajar topik ekosistem, hasil pengamatan anak menemukan fakta bahwa sampah menyebabkan menurunnya daya dukung ekosistem di pemukiman warga. Pembelajaran tidak berhenti pada penemuan fakta sebagai data yang melengkapi laporan hasil pengamatan. Penemuan fakta justru menjadi titik awal dalam menggali kemampuan kritis anak. Anak harus diberi ruang untuk melakukan analisis dan telaah kritis terhadap problem yang ditimbulkan sampah. Selanjutnya, anak ditantang untuk merancang dan mewujudkan sebuah solusi yang dapat mengatasi masalah ekosistem yang disebabkan oleh sampah. Anak akan berkreasi dan kita akan menyaksikan munculnya berbagai macam produk-produk baru yang inovatif dari bahan baku sampah, teknologi baru mengolah sampah, atau cara-cara baru mengatasi masalah sampah. Pada tahap akhir anak harus diberi ruang untuk mengkomunikasikan ide, melatih interaksi pemikiran dan keterbukaan sebagai salah satu sikap ilmiah dalam sains. Dengan demikian, pembelajaran akan menjadi bermakna bagi anak, bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Berpikir kreatif

Otak merupakan pengenal luar biasa dan penyimpan pola. Otak lebih mengingat hal-hal yang dapat kita lakukan, bukan yang kita tidak dapat lakukan, dan penggunaan yang biasa, bukan yang tidak biasa. Dengan pola-pola biasa dengan cara biasa dilakukan, dibuat, dioperasikan atau dikenalinya sesuatu, otak membuat hidup kita jadi lebih mudah. Kita dapat menggunakan, membuat dan mengenali banyak hal tanpa harus berpikir. Berpikir kreatif menuntut kita untuk melepaskan diri dari pola biasa atau dominan yang telah disimpan otak.

Untuk dapat membantu anak melepaskan diri dari pola-pola dominan, diperlukan sikap positif berupa pemikiran bebas/berfantasi dan pengambilan resiko. Sebenarnya sikap ini telah dimiliki anak ketika bermain di rumah, tetapi kebebasan ini mengalami penekanan oleh pembelajaran sekolah yang menekankan pada pemikiran dengan jawaban yang benar. Langrehr  (2006) mengemukakan lima aspek sikap yang baik untuk berpikir kreatif dengan menggunakan akronim FIRST (fantasy, incubate, risk take, sensitivity, titillate). Seorang pemikir kreatif kerap memimpikan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin terjadi atau solusi yang terkadang konyol terhadap suatu masalah. Ia biasanya membiarkan ide dan solusi untuk beberapa waktu dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan karena solusi kreatif kedua dan ketiga biasanya lebih kreatif dari yang pertama. Pemikir kreatif berani mengambil resiko demi mengharapkan sesuatu yang unik dan berguna, sensitif pada desain kreatif baik yang diciptakan manusia atau yang tercipta secara alamiah. Pemikir kreatif senantiasa bergairah dan menikmati kesenangan, di mana pada kondisi ini otak kaya akan gelombang theta dan zat endorfin (molekul bahagia) sehingga tercipta rasa rileks dalam pikiran. Oleh karena itu, sangat penting menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan sistem pembelajaran yang memungkinkan anak untuk berpikir kreatif.

Siklus Belajar

Salah satu tantangan besar yang dihadapi guru saat ini yakni bagaimana membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir (thinking skills), melangkah dari pengalaman konkret ke berpikir abstrak yang dapat menghasilkan “loncatan intuitif” melalui sebuah desain pembelajaran aktif. Piagetian-based education mengakui pentingnya menyiapkan lingkungan di mana anak dapat melangkah dari pengalaman konkret menuju ke menemukan konsep, dan  mengaplikasikan konsep. Mengetahui sebuah objek atau peristiwa, tidak sesederhana melihatnya dan menggambarkannya. Mengetahui objek berarti berbuat terhadapnya, memodifikasinya, mentransformasi dan memahami proses transformasinya, dan sebagai konsekuensi dari pemahaman terhadap objek adalah mengkontruksinya.

Pembelajaran meliputi tiga hal utama yaitu fakta, konsep dan nilai. Fakta-fakta yang dieksplorasi harus dapat dikonseptualisasi untuk melahirkan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan demikian, ketika anak belajar maka sesungguhnya diharapkan dapat melatih dan mengembangkan skill belajar (soft skill) yang meliputi self management skills, thinking skills, research skills, communication skills, social skills, dan problem solving skills.

Dengan semakin meningkatnya tantangan kehidupan di masa depan, menuntut pengembangan teori dan siklus belajar secara berkesinambungan. Siklus belajar yang dikembangkan dalam sebuah sistem pembelajaran menentukan terbentuknya karakter yang diharapkan pada diri anak. Karakter berpikir yang kreatif dan membebaskan dapat menjadi modal utama bagi anak untuk menjadi manusia mandiri dalam kehidupan masa depan yang kompetitif. Proses pembelajaran yang berkarakter, membiasakan anak belajar dan bekerja terpola dan sistematis, baik secara individual maupun kelompok dengan lingkungan yang menyediakan ruang bagi anak untuk berkreasi dan mencipta.

Untuk membentuk karakter kreatif dan produktif menuju terciptanya kemandirian bagi anak, maka dikembangkan siklus belajar yang meliputi lima aspek pengalaman belajar sebagai berikut:

1) Exploring, merespon informasi baru, mengeksplorasi fakta-fakta dengan petunjuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan dengan orang lain, atau menggali informasi dari guru, ahli/pakar atau sumber-sumber yang lain.

2) Planning, menyusun rencana kerja, mengidentifikasi alat dan bahan yang diperlukan, menentukan langkah-langkah, desain karya dan rencana lainnya.

3)  Doing/acting, melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, membuat karya dan melaporkan hasilnya, menyelesaikan masalah.

4) Communicating, mengkomunikasikan/mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, penemuan, atau hasil karyanya, sharing dan diskusi.

5)  Reflecting, mengevaluasi proses dan hasil yang telah dicapai, mencari kelemahan-kekurangan guna meningkatkan efektivitas perencanaan.

Aspek pengalaman belajar di atas merupakan tahapan-tahapan belajar yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan potensi belajar, berpikir dan berkreasi dalam karya. Di mana siklus pembelajaran tersebut menjadi wahana melatih anak membangun kemandirian dan memupuk jiwa entrepreneurial dengan kreativitas dan produktivitas sebagai karakternya. Dalam implementasinya, siklus belajar ini konsisten dengan pendekatan konstruktivistik, inquirí, kooperatif dan kolaboratif.    

About these ads

16 Tanggapan to “Membentuk Karakter Kreatif dan Produktif melalui Siklus Belajar”

  1. Paijo berkata

    Artikel yang bagus dan mencerahkan. Terimakasih dan salam eksperimen.

  2. fidrayani berkata

    tolong info yang lebih lengkap tentang revisi taksonomi Bloom, mohon dikirim keemail Uqshara@yahoo.com….kalo ada tentang taksonomi Bloom pada pembelajaran anak usia dini…..wassalam. trims

  3. rudy berkata

    ini buat tugas akhir sayasonomi bloom dengan taksonomi lainnya, kalau bisa ada matriknya, tolong ya

  4. azis berkata

    tulisan ni sangat top n sangat membantu

  5. efraent berkata

    nice article. sekolah saya sudah menerapkan hal ini. sangat baik untuk anak-anak. meningkatkan kreativitas dan inovasi siswa. terus berjuang!!!!

  6. [...] ( http://mahmuddin.wordpress.com/2007/11/09/membentuk-karakter-kreatif-dan-produktif-melalui-siklus-be…) [...]

  7. dika berkata

    artikelnya bagus, tapi lebih bagus lagi kalo disertai contoh sederhana yang relefan.

  8. wahyu dhani berkata

    bos maling di mana nich konsep?

    • Mahmuddin berkata

      Wahyu Dhani….
      Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejaknya di Blog ini.
      Silahkan dibaca isinya, ide konseptualisasi tentu orisinil. Sumber data diambil dari referensi hasil training oleh Dwi Sunu Pebruanto di Sampoerna Foundation, Jakarta 2006.
      Salam
      Mahmuddin

  9. alvonsus berkata

    tolong sy referensinya

  10. rohmah alsyairozzi berkata

    pak mahmudin tulisan’y sgt bagus., Punten pak, rohmah minta referensi atau buku2 tentang model pembelajaran kreatif produktif. Nanti dikirim lewat email ja: rohmah.alsyairozzi@yahoo.com
    penting pak, bwt penelitian sy. Sbb mpe skrg blm menemukan baik buku maupun jurnal ttg model pembelajaran kreatif produktif. Terimakasih

  11. [...] http://mahmuddin.wordpress.com/2007/11/09/membentuk-karakter-kreatif-dan-produktif-melalui-siklus-be… [...]

  12. Abdiena S. Putri berkata

    Pak, selain inquiry dan CBSA jenis2 model pembelajaran kreatif produktif itu terdiri atas apa saja? mohon penjelasannya. terima kasih…..

    • Mahmuddin berkata

      Dear Dina, Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Pembelajaran kreatif dan produktif bukan smata pada model pembeljaran tp ditentukan isi kegiatan belajar yang dirancang oleh guru. Jadi, silahkan pake model pembelajaran apa saja karena justru di sanalah tantangan kretivitas yang sesungguhnya.

      Salam

  13. amriana berkata

    referensi untuk pembelajaran kreatif produktif ini apa ya? soalnya saya cari susah banget!
    di tumggu blasannya,,
    thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: