Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Produktivitas Ekosistem Hutan Hujan Tropis

Posted by Mahmuddin pada September 9, 2009

Ekosistem yang berbeda sangat bervariasi dalam produktivitasnya. Hutan hujan tropis merupakan salah satu ekosistem terrestrial yang paling produktif. Di samping karena  hutan hujan tropis menutupi sebagian besar bumi dan memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi, besarnya volume biomassa tumbuhan persatuan luas pada hutan hujan tropis, sehingga memberi kesan produktivitas yang sangat tinggi dan lahan yang sangat subur. Patandianan (1996) dalam Wiharto (2007) menyatakan, bahwa sifat tanah hutan hujan tropis adalah miskin hara sehingga tidak mampu mendukung produktivitas tumbuhan yang sangat tinggi. Namun, produktivitas yang sangat tinggi pada kawasan ini terjadi karena ekosistem hutan hujan tropis memiliki sistem daur hara yang sangat ketat, tahan kebocoran, dan berlangsung cepat (Resosoedarmo et al., 1986 dalam Wiharto, 2007).

Produktivitas primer merupakan laju penambatan energy yang dilakukan oleh produsen.  Menurut Campbell (2002), Produktivitas primer menunjukkan Jumlah energy cahaya yang diubah menjadi energy kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama suatu periode waktu tertentu. Total produktivitas primer dikenal sebagai produktivitas primer kotor (gross primary productivity, GPP). Tidak semua hasil produktivitas ini disimpan sebagai bahan organik pada tubuh organisme produsen atau pada tumbuhan yang sedang tumbuh, karena organisme tersebut menggunakan sebagian molekul tersebut sebagai bahan bakar organik dalam respirasinya. Dengan demikian, Produktivitas primer bersih (net primary productivity, NPP) sama dengan produktivitas primer kotor dikurangi energi yang digunakan oleh produsen untuk respirasi (Rs).

Produktivitas primer hutan hujan tropis dan beberapa ekosistem dalam biosfer dapat disajikan pada table 1 di bawah ini:

Tabel 1.  Produktivitas Primer Biosfer

No

Tipe Ekosistem

Produktivitas Primer Bersih (Bahan Kering)

Kisaran Normal (g/m2/tahun)

1

Hutan Hujan Tropis

1000 – 3500

2

Hutan Musim Tropis

1000 – 2500

3

Hutan  Iklim Sedang:-          Selalu Hijau

-          Luruh

 

600 – 2500

600 – 2500

4

Hutan Boreal

400 – 2000

5

Savana

200 – 2000

6

Padang Rumput Iklim Sedang

200 – 1500

7

Tundra dan Alvin

10 – 400

8

Gurun dan Semak Gurun

10 – 250

Sumber : Whittaker dan Likens (1975) dalam Wiharto (2007)

Berdasarkan data tabel 1 di atas, hutan hujan tropis memiliki produktivitas primer 1000 – 3500 g/m2/tahun dan hanya berbeda rentang dengan hutan musim tropis yakni 1000-2500 g/m2/tahun. Produktivitas primer ekosistem terendah dimiliki oleh tipe ekosistem gurun dan semak gurun yakni 10–250 g/m2/tahun yang juga berbeda rentang dengan ekosistem tundra dan Alvin yakni 10 – 400 g/m2/tahun. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produktivitas primer ekosistem hutan hujan tropis paling tinggi dibandingkan dengan produktivitas ekosistem hutan musim tropis, hutan iklim sedang, hutan boreal, savanna, padang rumput iklim sedang, tundra dan Alvin, serta gurun dan semak.

Produktivitas hutan hujan tropis dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:

Cahaya Matahari dan Suhu

Berdasarkan letak geografis, wilayah hutan hujan tropis menerima lebih banyak sinar matahari tahunan yang tersedia bagi fotosintesis dibanding dengan wilayah iklim sedang. Menurut Sances (1992) dalam Wiharto (2007), Hal tersebut disebabkan oleh 3 faktor yaitu: (1) Kemiringan poros bumi menyebabkan wilayah tropika menerima lebih banyak sinar matahari pada atmosfer luarnya dibanding dengan wilayah iklim sedang. (2) Lewatnya sinar matahari pada atmosfer yang lebih tipis (karena sudut yang lebih tegak lurus di daerah tropika), mengurangi jumlah sinaran yang diserap oleh atmosfer. Di wilayah hutan hujan tropis, 56% sampai dengan 59 % sinar matahari pada batas atmosfer dapat sampai di permukaan tanah. (3) Masa tumbuh yang terbatas oleh keadaan suhu adalah lebih panjang di daerah hutan hujan tropis (kecuali di tempat-tempat yang sangat tinggi). Lyford dan Phinney (1968) melaporkan bahwa peningkatan biomassa tumbuhan paling tinggi terjadi pada saat photoperiod maksimum.

Berdasarkan gradasi suhu rata-rata tahunan, suhu bukanlah menjadi faktor dominan yang menentukan produktivitas hutan hujan tropis. Akan tetapi, dengan adanya suhu yang tinggi dan konstan hampir sepanjang tahun dapat bermakna musim tumbuh bagi tumbuhan akan berlangsung lama, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas.

Curuh Hujan

Hutan hujan tropis memiliki curah hujan yang merata sepanjang tahun yakni berkisar 9 -12 bulan basah. Hujan selain berfungsi sebagai sumber air juga berfungsi sebagai sumber hara. Terjadinya petir selama musim hujan, menjadi energy alami yang dapat menyebabkan nitrogen terfiksasi dengan hydrogen membentuk nitrit yang dapat turun ke tanah bersama air hujan. Nitrogen termasuk unsur vital bagi tumbuhan karena merupakan bahan penyusun klorofil.

Kelembaban

Tingginya kelembaban pada gilirannya akan meningkatkan laju aktivitas mikroorganisme. Selain itu, kelembaban sangat mempengaruhi kecepatan proses pelapukan tanah. Pelapukan terjadi ketika hidrogen dalam larutan tanah bereaksi dengan mineral-mineral dalam tanah atau lapisan batuan, yang mengakibatkan terlepasnya unsur-unsur hara. Hara-hara ini ada yang dapat dengan segera diserap oleh tumbuhan.

Serasah

Produktivitas serasah hutan hujan tropis sangat tinggi dibandingkan dengan tipe ekosistem lain, sehingga penyediaan zat hara bagi tumbuhan sangat mendukung bagi peningkatan produktivitas. Data pada tabel 2 di bawah ini menunjukkan bahwa hutan hujan tropis memiliki laju dekomposisi serasah paling cepat yakni sebesar 0,45 %/hari dibanding dengan tipe ekosistem lain, seperti padang rumput 0,30%/hari, hutan aok 0,018 – 0,095 %/hari. Dengan kondisi lingkungan mikro yang sangat kondusif, proses dekomposisi serasah pada hutan hujan tropis berlangsung cepat. Hal ini berarti bahwa serasah yang jatuh dipermukaan tanah tidak akan lama tertimbun dalam lantai hutan tetapi dapat segera didekomposisi oleh mikroorganisme menjadi zat anorganik sehingga dapat segera diserap kembali oleh tumbuhan (Resosoedarmo et al., 1996 dalam Wiharto, 2007).

Table 2. Laju dekomposisi serasah pada beberapa tipe ekosistem dunia

Iklim

Tipe Ekosistem

Laju Dekomposisi (%/ hari)

Tropis

Hutan Hujan Tropis

0.45

 

Padang Rumput

0.30

Sedang

Hutan Oak di:

 

  Minnesota

0.018

  Missouri

0.095

  New Jersey

0.018

Sumber: Barbour et al. (1987) dalam Wiharto (2007)

Tanah

Potensi ketersedian hidrogen yang tinggi pada tanah-tanah tropis disebabkan oleh diproduksinya asam organik secara kontinu melalui respirasi yang dilangsungkan oleh mikroorganisme tanah dan akar (respirasi tanah). Jika tanah dalam keadaan basah, maka karbon dioksida (CO2) dari respirasi tanah beserta air (H2O) akan membentuk asam karbonat (H2CO3 ) yang kemudian akan mengalami disosiasi menjadi bikarbonat (HCO3-) dan sebuah ion hidrogen bermuatan positif (H+). Ion hidrogen selanjutnya dapat menggantikan kation hara yang ada pada koloid tanah, kemudian bikarbonat bereaksi dengan kation yang dilepaskan oleh koloid, dan hasil reaksi ini dapat tercuci ke bawah melalui profil tanah (Wiharto, 2007).

Hidrogen yang dibebaskan ke tanah sebagai hasil aktivitas biologi, akan bereaksi dengan liat silikat dan membebaskan aluminium. Karena aluminium merupakan unsur yang terdapat dimana-mana di daerah hutan hujan tropis, maka alminiumlah yang lebih dominan berasosiasi dengan tanah asam di daerah ini. Sulfat juga dapat menjadi sumber pembentuk asam di tanah. Sulfat ini dapat masuk ke ekosistem melalui hujan maupun jatuhan kering, juga melalui aktivitas organisme mikro yang melepaskan senyawa gas sulfur. Asam organik juga dapat dilepaskan dari aktivitas penguraian serasah (Jordan, 1985 dalam Wiharto, 2007 ).

Herbivora

Menurut Barbour at al. (1987) dalam Wiharto (2007), sekitar 10 % dari produktivitas vegetasi darat dunia dikonsumsi oleh herbivora biofag. Persentase ini bervariasi menurut tipe ekosistem darat. Namun demikian, menurut McNaughton dan Wolf (1998) bahwa akibat yang ditimbulkan oleh herbivore pada produktivitas primer sangat sedikit sekali diketahui. Bahkan hubunga antar herbivore dan produktivitas primer bersih kemungkinan bersifat kompleks, di mana konsumsi sering menstimulasi produktivitas tumbuhan sehingga meningkat mencapai tingkat tertentu yang kemudian dapat menurun jika intensitasnya optimum.  

Jordan (1985) dalam Wiharto (2007) menyatakan, bahwa walaupun defoliasi pada individu pohon secara menyeluruh sering sekali terjadi, hal ini disebabkan oleh tingginya keanekaragaman di daerah hutan hujan tropis. Selain itu, banyak pohon mengembangkan alat pelindung terhadap herbivora melalui produksi bahan kimia tertentu yang jika dikonsumsi oleh herbivora memberi efek yang kurang baik bagi herbivora.

About these ads

17 Tanggapan to “Produktivitas Ekosistem Hutan Hujan Tropis”

  1. yadi said

    ade ndak tulisan tentang hutan hujan tropis dalam bentuk power point

  2. aris said

    ada penjelasan tentang ekosistem tundra ga???

  3. nabil said

    laen kali kalo kirirm kayak ginian yang lengkap yaaaaaa

  4. algojali said

    slamat siang, bro
    ane minta bantuanya nih,
    apa yg dimaksud dengan istilah-istilah dibawah ini :

    1. Biosper
    2. food chains
    3.net primary production
    4. tropical rain forest.

    ditunggu bantuannya om, terima kasih.

  5. Gingin said

    bos…
    seerat apa hubungan antara keanekaragaman jenis pohon di hutan hujan tropis dengan banyaknya anak sungai dalam hutan tersebut? lengkap ya…..
    makasih.

  6. rafifajar@ymail.com said

    Produktivitas Ekosistem Hutan Hujan Tropis

    Ditulis oleh Mahmuddin di/pada September 9, 2009

    Ekosistem yang berbeda sangat bervariasi dalam produktivitasnya. Hutan hujan tropis merupakan salah satu ekosistem terrestrial yang paling produktif. Di samping karena hutan hujan tropis menutupi sebagian besar bumi dan memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi, besarnya volume biomassa tumbuhan persatuan luas pada hutan hujan tropis, sehingga memberi kesan produktivitas yang sangat tinggi dan lahan yang sangat subur. Patandianan (1996) dalam Wiharto (2007) menyatakan, bahwa sifat tanah hutan hujan tropis adalah miskin hara sehingga tidak mampu mendukung produktivitas tumbuhan yang sangat tinggi. Namun, produktivitas yang sangat tinggi pada kawasan ini terjadi karena ekosistem hutan hujan tropis memiliki sistem daur hara yang sangat ketat, tahan kebocoran, dan berlangsung cepat (Resosoedarmo et al., 1986 dalam Wiharto, 2007).

    Produktivitas primer merupakan laju penambatan energy yang dilakukan oleh produsen. Menurut Campbell (2002), Produktivitas primer menunjukkan Jumlah energy cahaya yang diubah menjadi energy kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama suatu periode waktu tertentu. Total produktivitas primer dikenal sebagai produktivitas primer kotor (gross primary productivity, GPP). Tidak semua hasil produktivitas ini disimpan sebagai bahan organik pada tubuh organisme produsen atau pada tumbuhan yang sedang tumbuh, karena organisme tersebut menggunakan sebagian molekul tersebut sebagai bahan bakar organik dalam respirasinya. Dengan demikian, Produktivitas primer bersih (net primary productivity, NPP) sama dengan produktivitas primer kotor dikurangi energi yang digunakan oleh produsen untuk respirasi (Rs).

    Produktivitas primer hutan hujan tropis dan beberapa ekosistem dalam biosfer dapat disajikan pada table 1 di bawah ini:

    Tabel 1. Produktivitas Primer Biosfer

    No
    Tipe Ekosistem

    Produktivitas Primer Bersih (Bahan Kering)

    Kisaran Normal (g/m2/tahun)

    1
    Hutan Hujan Tropis

    1000 – 3500

    2
    Hutan Musim Tropis

    1000 – 2500

    3
    Hutan Iklim Sedang:- Selalu Hijau

    – Luruh

    600 – 2500

    600 – 2500

    4
    Hutan Boreal

    400 – 2000

    5
    Savana

    200 – 2000

    6
    Padang Rumput Iklim Sedang

    200 – 1500

    7
    Tundra dan Alvin

    10 – 400

    8
    Gurun dan Semak Gurun

    10 – 250

    Sumber : Whittaker dan Likens (1975) dalam Wiharto (2007)

    Berdasarkan data tabel 1 di atas, hutan hujan tropis memiliki produktivitas primer 1000 – 3500 g/m2/tahun dan hanya berbeda rentang dengan hutan musim tropis yakni 1000-2500 g/m2/tahun. Produktivitas primer ekosistem terendah dimiliki oleh tipe ekosistem gurun dan semak gurun yakni 10–250 g/m2/tahun yang juga berbeda rentang dengan ekosistem tundra dan Alvin yakni 10 – 400 g/m2/tahun. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produktivitas primer ekosistem hutan hujan tropis paling tinggi dibandingkan dengan produktivitas ekosistem hutan musim tropis, hutan iklim sedang, hutan boreal, savanna, padang rumput iklim sedang, tundra dan Alvin, serta gurun dan semak.

    Produktivitas hutan hujan tropis dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:

    Cahaya Matahari dan Suhu

    Berdasarkan letak geografis, wilayah hutan hujan tropis menerima lebih banyak sinar matahari tahunan yang tersedia bagi fotosintesis dibanding dengan wilayah iklim sedang. Menurut Sances (1992) dalam Wiharto (2007), Hal tersebut disebabkan oleh 3 faktor yaitu: (1) Kemiringan poros bumi menyebabkan wilayah tropika menerima lebih banyak sinar matahari pada atmosfer luarnya dibanding dengan wilayah iklim sedang. (2) Lewatnya sinar matahari pada atmosfer yang lebih tipis (karena sudut yang lebih tegak lurus di daerah tropika), mengurangi jumlah sinaran yang diserap oleh atmosfer. Di wilayah hutan hujan tropis, 56% sampai dengan 59 % sinar matahari pada batas atmosfer dapat sampai di permukaan tanah. (3) Masa tumbuh yang terbatas oleh keadaan suhu adalah lebih panjang di daerah hutan hujan tropis (kecuali di tempat-tempat yang sangat tinggi). Lyford dan Phinney (1968) melaporkan bahwa peningkatan biomassa tumbuhan paling tinggi terjadi pada saat photoperiod maksimum.

    Berdasarkan gradasi suhu rata-rata tahunan, suhu bukanlah menjadi faktor dominan yang menentukan produktivitas hutan hujan tropis. Akan tetapi, dengan adanya suhu yang tinggi dan konstan hampir sepanjang tahun dapat bermakna musim tumbuh bagi tumbuhan akan berlangsung lama, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas.

    Curuh Hujan

    Hutan hujan tropis memiliki curah hujan yang merata sepanjang tahun yakni berkisar 9 -12 bulan basah. Hujan selain berfungsi sebagai sumber air juga berfungsi sebagai sumber hara. Terjadinya petir selama musim hujan, menjadi energy alami yang dapat menyebabkan nitrogen terfiksasi dengan hydrogen membentuk nitrit yang dapat turun ke tanah bersama air hujan. Nitrogen termasuk unsur vital bagi tumbuhan karena merupakan bahan penyusun klorofil.

    Kelembaban

    Tingginya kelembaban pada gilirannya akan meningkatkan laju aktivitas mikroorganisme. Selain itu, kelembaban sangat mempengaruhi kecepatan proses pelapukan tanah. Pelapukan terjadi ketika hidrogen dalam larutan tanah bereaksi dengan mineral-mineral dalam tanah atau lapisan batuan, yang mengakibatkan terlepasnya unsur-unsur hara. Hara-hara ini ada yang dapat dengan segera diserap oleh tumbuhan.

    Serasah

    Produktivitas serasah hutan hujan tropis sangat tinggi dibandingkan dengan tipe ekosistem lain, sehingga penyediaan zat hara bagi tumbuhan sangat mendukung bagi peningkatan produktivitas. Data pada tabel 2 di bawah ini menunjukkan bahwa hutan hujan tropis memiliki laju dekomposisi serasah paling cepat yakni sebesar 0,45 %/hari dibanding dengan tipe ekosistem lain, seperti padang rumput 0,30%/hari, hutan aok 0,018 – 0,095 %/hari. Dengan kondisi lingkungan mikro yang sangat kondusif, proses dekomposisi serasah pada hutan hujan tropis berlangsung cepat. Hal ini berarti bahwa serasah yang jatuh dipermukaan tanah tidak akan lama tertimbun dalam lantai hutan tetapi dapat segera didekomposisi oleh mikroorganisme menjadi zat anorganik sehingga dapat segera diserap kembali oleh tumbuhan (Resosoedarmo et al., 1996 dalam Wiharto, 2007).

    Table 2. Laju dekomposisi serasah pada beberapa tipe ekosistem dunia

    Iklim
    Tipe Ekosistem

    Laju Dekomposisi (%/ hari)

    Tropis
    Hutan Hujan Tropis

    0.45

    Padang Rumput

    0.30

    Sedang
    Hutan Oak di:

    Minnesota

    0.018
    Missouri

    0.095
    New Jersey

    0.018

    Sumber: Barbour et al. (1987) dalam Wiharto (2007)

    Tanah

    Potensi ketersedian hidrogen yang tinggi pada tanah-tanah tropis disebabkan oleh diproduksinya asam organik secara kontinu melalui respirasi yang dilangsungkan oleh mikroorganisme tanah dan akar (respirasi tanah). Jika tanah dalam keadaan basah, maka karbon dioksida (CO2) dari respirasi tanah beserta air (H2O) akan membentuk asam karbonat (H2CO3 ) yang kemudian akan mengalami disosiasi menjadi bikarbonat (HCO3-) dan sebuah ion hidrogen bermuatan positif (H+). Ion hidrogen selanjutnya dapat menggantikan kation hara yang ada pada koloid tanah, kemudian bikarbonat bereaksi dengan kation yang dilepaskan oleh koloid, dan hasil reaksi ini dapat tercuci ke bawah melalui profil tanah (Wiharto, 2007).

    Hidrogen yang dibebaskan ke tanah sebagai hasil aktivitas biologi, akan bereaksi dengan liat silikat dan membebaskan aluminium. Karena aluminium merupakan unsur yang terdapat dimana-mana di daerah hutan hujan tropis, maka alminiumlah yang lebih dominan berasosiasi dengan tanah asam di daerah ini. Sulfat juga dapat menjadi sumber pembentuk asam di tanah. Sulfat ini dapat masuk ke ekosistem melalui hujan maupun jatuhan kering, juga melalui aktivitas organisme mikro yang melepaskan senyawa gas sulfur. Asam organik juga dapat dilepaskan dari aktivitas penguraian serasah (Jordan, 1985 dalam Wiharto, 2007 ).

    Herbivora

    Menurut Barbour at al. (1987) dalam Wiharto (2007), sekitar 10 % dari produktivitas vegetasi darat dunia dikonsumsi oleh herbivora biofag. Persentase ini bervariasi menurut tipe ekosistem darat. Namun demikian, menurut McNaughton dan Wolf (1998) bahwa akibat yang ditimbulkan oleh herbivore pada produktivitas primer sangat sedikit sekali diketahui. Bahkan hubunga antar herbivore dan produktivitas primer bersih kemungkinan bersifat kompleks, di mana konsumsi sering menstimulasi produktivitas tumbuhan sehingga meningkat mencapai tingkat tertentu yang kemudian dapat menurun jika intensitasnya optimum.

    Jordan (1985) dalam Wiharto (2007) menyatakan, bahwa walaupun defoliasi pada individu pohon secara menyeluruh sering sekali terjadi, hal ini disebabkan oleh tingginya keanekaragaman di daerah hutan hujan tropis. Selain itu, banyak pohon mengembangkan alat pelindung terhadap herbivora melalui produksi bahan kimia tertentu yang jika dikonsumsi oleh herbivora memberi efek yang kurang baik bagi herbivora.

  7. Anonymous said

    ducccccccccccchhhhhhhh bingung

  8. endah p said

    bagus ganget, lengkap.

  9. [...] Produktivitas Ekosistem Hutan Hujan Tropis [...]

  10. Anonymous said

    duch binun banedz

  11. limin siwidaraGASfc said

    sang….at baik. aq jd lbih tau ttg hutan hujan tropis/tropical rainforest. tpi syang’y hutan hujan tropis d indonesia, bnyak yg hilang, di teBANGI ka ga karuan.. sedih sdih sdiiiihh,,,,,,..,,,, pa ga ada organisasi yg mlindngi hutan hujan……..

  12. salam kenal pak mahmudin, trims atas posting mengenai hutan tropis.. sesuai dengan kompetensi saya di bidang ekologi hutan tropika…

    • Mahmuddin said

      Salam kenal balik Pak Ichsan….. Terima kasih atas kunjungannya di Blog ini, sy mrasa senang dan tersanjung atas perkenannya Pak Ichsan membaca postingan saya. Salam, Mahmuddin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: