Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Pendekatan Konstruktivistik dalam Pembelajaran

Posted by Mahmuddin pada November 12, 2009

Filosofi belajar konstruktivisme menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. Dalam proses pembelajaran, siswa harus mendapatkan penekanan, aktif  mengembangkan pengetahuan mereka, dan bertanggung jawab terhadap hasil belajar. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Jean Piaget, Lev Vygotsky dan Jerome Bruner merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme. Mereka merupakan peletak dasar paham konstruktivisme dengan kajiannya bertahun-tahun dalam bidang psikologi dan perkembangan intelektual anak. Piaget (1886-1980) adalah seorang ahli psikologi Swiss, yang mendalami bagaimana anak berpikir dan berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual. Piaget menjelaskan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. menurut Peaget, siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodivikasi pengetahuan awal mereka.

Lev Vygotsky (1896-1834) adalah ahli psikologi Rusia. Menurut Vygotsky,  perkembangan intelektual anak terjadi pada saat berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang. Mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang muncul dari pengalaman ini. Dalam upaya mendapatkan pengalaman baru, individu mengkaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya dan membangun pengertian baru.

Piaget dan Vygotsky memiliki perbedaan penekanan dalam perkembangan kognitif. Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar konteks sosial  dan budaya, sementara Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

Jerome Bruner adalah seorang ahli psikologi Harvard. Bruner mengemukakan teori pembelajaran penemuan. Pembelajaran penemuan adalah suatu pembelajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajarannya terjadi melalui penemuan pribadi. Menurut Bruner, menemukan sesuatu oleh murid memakan waktu yang lebih banyak, apa yang dapat diajarkan dalam waktu 30 menit, mungkin memerlukan 4-5 jam, yakni merumuskan masalah, merencanakan cara memecahkannya, melakukan percobaan, membuat kesalahan, berpikir untuk mengatasinya, dan akhirnya menemukan penyelesaiannya tak ternilai harganya bagi cara belajar selanjutnya atas kemampuan sendiri.

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik, subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.

Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.

Menurut sidik (2008), bahwa pembelajaran konstruktivisme meliputi empat tahapan yaitu:

  1. Apersepsi: Menghubungkan konsepsi awal, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dari materi sebelumnya yang merupakan konsep prasyarat.
  2. Eksplorasi: Mengungkapkan dugaan sementara terhadap konsep yang dipalajari, menggali menyelidiki dan menemukan konsep dapat melalui manipulasi benda langsung.
  3. Diskusi dan Penjelasan Konsep: Mengkomunikasikan hasil penyelidikan dan tamuannya, Guru memfasilitasi dan memotivasi kelas.
  4. Pengembangan dan Aplikasi: Pemberikan penekanan terhadap konsep-konsep esensial, merumuskan kesimpulan dan menerapkan pemahaman konseptual melalui pengerjaan tugas atau proyek.

Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan dan siswa mengungkapkan gagasan secara eksplisit, memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa. Pendekatan ini mendorong siswa dapat berpikir kreatif, imajinatif, refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat. Mencoba gagasan baru, mendorong siswa untuk memperoleh kepercayaan diri. Dengan demikian pendekatan konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.

Problematika yang dapat ditemukan dalam implementasi pendekatan kontruktivisme adalah siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri tidak jarang menyebabkan miskonsepsi. Selain itu,  konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini seringkali membutuhkan waktu yang lama di samping penanganan siswa secara individual yang berbeda-beda.

About these ads

19 Tanggapan to “Pendekatan Konstruktivistik dalam Pembelajaran”

  1. rima said

    saya boleh tau judul buku tentang pendekatan konstruktivisme……blz

  2. gatot kaca said

    mohon izin mengcopi ya…trimakasih..

  3. maaf,sy juga mo copy yah ? jangan marah……..

    • Mahmuddin said

      Ibu Murni, Terima kasih atas kunjungannya di blog ini. Silahkan dimanfaatkan tulisan yang ada, semoga dapat membantu.

      Salam

  4. izin pak yah,saya mau copy juga .spertix tulisan ini sangat membantu saya tuk nyusun karya ilmiah.salam kenal…….

  5. Ning Rahayu said

    yth Bp Mahmuddin,
    Ass.wr.wb.
    Mohon ijin utk mencopy,terimakasih,saat ini sy sangat membutuhkan artikel semacam ini.
    maturnuwun,Pak.
    Wass.

    • Mahmuddin said

      wlkslm. Ning Rahayu, Terima kasih atas kunjungannya, Silahkan dicopy, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat lebih banyak.

      salam

  6. abdulazis said

    ammud agatu kareba… .. cappo … tulusannya bagus sakali banyak yang minta dicopy, lanjutnkan terus. semoga sukses amin.

    • Mahmuddin said

      Daeng Azis, Terima kasih atas kunjuganta. Kareba Alhamdulillah sehat-sehat. Di mana posisi skarang???

      • abdulazis said

        saya masi dipontianak, salam sama keluargax, bulan lalu ke makassar cuma satu hari tidak masuk ke bone mamax Henri ke Mksr, sy dari diklat pim di Jkr satu bln lebih. Adami katax anakx Alli ? … gimana kabarx itu Ancung ? tidak perna ada beritnya.

  7. kudalumping said

    Ass, Pak.
    Izin copy ya pak, saya bener-bener tertolong dengan artikel bapak ini, sebagai referensi untuk nyusun karya ilmiah saya. Terimakasih.

    Savitri HS

  8. gita said

    trmksh bwt artikelnya!!!

  9. somad said

    izin meng copy………
    trima kasih……….

  10. tary said

    Great ! tapi tidak semua guru yang memiliki kesadaran yang sama (kesadaran mencerdaskan kehidupan bangsa) sebab teori ini memerlukan banyak “keringat’ untuk mengolah lebih banyak ide hingga mengembangkan kreativitas siswanya. mengingat ekonomi dan sosial guru yang masih sangat jauh dari sejahtera….

  11. Anonymous said

    maaf ya pak z copy dulu, mau bikin karya ilmiah, lista

  12. L W nips said

    ijin menularkan ke kawan yang lain pak

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: