Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Nilai-nilai dan Karakter Kewirausahaan

Posted by Mahmuddin pada Desember 15, 2010

Dengan semakin gencarnya popularitas entrepreneurship dalam kehidupan global termasuk Indonesia, entrepreneur telah dijadikan pilihan bagi sebagian besar pelaku bisnis. Entrepreneur dianggap memiliki kemampuan untuk mandiri dan berhasil, dan bahkan memberikan peluang kerja bagi orang lain. Dengan berentrepreneur, tidak saja memungkinkan orang dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan, namun di samping itu juga, berentrepreneur akan mendapatkan kebebasan keuangan dan waktu yang cukup untuk melakukan berbagai kegiatan yang mereka sukai bersama teman-teman dan keluarganya.

Memang, memulai bisnis tidak semudah yang dibayangkan. Tidak sedikit orang yang tidak kunjung melangkah karena begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, bahkan keraguan sehingga membuat banyak orang menghabiskan waktu untuk merenung tanpa melakukan apa-apa. Banyak pula orang yang tidak segera memulai bisnis, meski sudah mekualitasskan untuk menjadi pengusaha, karena selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan: takut gagal dan hanya membayangkan kemudahan saja. Sebenarnya, di dalam dunia bisnis, kesuksesan dan kegagalan adalah hal yang sudah lumrah. Masalahnya apakah mereka sanggup mengatasi kegagalan untuk bangkit kembali mengejar keberhasilan. Itulah sebetulnya tantangan para entrepreneur dalam dinia bisnis.

Mengapa seorang entrepreneur dapat lebih tangguh dari yang lain? Kuncinya adalah pada etos bisnis, yaitu keyakinan yang kuat dan mendalam mengenai nilai penting dari bisnis yang ditekuninya. Seseorang dengan keyakinan bahwa bisnisnya itu bermakna penuh bagi hidupnya, maka ia akan berjuang lebih keras untuk berhasil. Berbeda dengan seseorang yang menganggap bisnisnya sebagai alternatif mencari uang, bila menemui kesulitan, akan dengan cepat meninggalkannya untuk mencari alternatif baru yang diharapkan lebih mudah.

Etos bisnis sering dikaitkan dengan kepercayaan, mulai berkembang setelah Max Weber mengajukan tesisnya mengenai Protestan Ethic dalam kaitannya dengan pertumbuhan kapitalisme, yaitu living to work instead of working to live. Kemudian bermunculan pendapat lain yang memperjelas tesis tersebut, seperti Robert N. Bellah dengan konsep Tokugawa Religion, Clifford Geertz dengan Peddlers and Princes dan Peter Grant dengan Islamic Roots of Capitalism. Sikap hidup inilah yang menurut Yoyon Bahtiar Irianto menjadi etika kerja yang berlaku di negara-negara maju.

Seorang pelaku bisnis sejati “tidak takut melarat” untuk sementara, karena ia yakin melalui usahanya ia akan menjadi “kaya” di belakang hari. Karena itu, seorang pelaku bisnis selalu memiliki kesediaan untuk menunda kesenangan sementara, demi kebahagiaan yang lebih besar. Penundaan kesenangan (deference of gratification) adalah selaras dengan sikap hidup hemat dan tidak konsumtif.

Ada karakter-karakter yang paling dibutuhkan untuk mendukung munculnya seorang wirausaha yang berpeluang sukses tersebut, yaitu:

  1. Daya gerak (drive), seperti inisitaif, semangat, tanggung-jawab, ketekunan dan kesehatan.
  2. Kemampuan berpikir (thinking ability), seperti gagasan asli, kreatif, kritis dan analitis.
  3. Kemampuan membina relasi (competency in human relation), seperti mudah bergaul (sociability), mempunyai tingkat emosi yang stabil (EQ tinggi), ramah, suka membantu (cheer fullness), kerja sama, penuh pertimbangan (consideration), dan bijaksana (tactfulness).
  4. Mampu menyampaikan gagasannya (communication skills), seperti terbuka dan dapat menyampaikan pesan secara lisan (bicara) atau tulisan (memo).
  5. Keahlian khusus (technical knowledge), seperti menguasai proses produksi atau pelayanan yang dibidanginya, dan tahu dari mana mendapatkan informasi yang diperlukan.

Menurut Irianto (2010:22), kunci sukses dari para wirausahawan terdiri dari tiga unsur utama, yaitu:

  1. Motivasi, yaitu keinginan menjadi sosok yang berguna bagi masyarakat melalui prestasi kerja sebagai wirausaha.
  2. Pengetahuan, yaitu keinginan belajar terus agar tidak menjadi usang dalam perubahan situasi persaingan usaha.
  3. Menjalani, yaitu keinginan berhasil yang didukung dengan perencanaan matang yang dipersiapkan secara realistis sesuai dengan kebutuhan menghadapi persaingan dan kemampuan melaksanakannya.

Menurut Irianto (2010:22) ketiga rahasia tersebut di atas dapat mengaktifkan kemampuan diri seorang yang berminat menjadi wirausaha tangguh. Dari karakter-karakter dan faktor-faktor kunci keberhasilan seseorang menjadi wirausahawan, telah melahirkan pemimpin-pemimpin bisnis yang berkepribadian tinggi. Tipe-tipe kepribadian pebisnis yang dapat dijadikan bahan kajian, antara lain:

  1. The Improver, yaitu pemimpin yang memiliki kepribadian dalam menjalankan organisasi dengan menonjolkan gaya improver alias ingin selalu memperbaiki. Improver memiliki kemampuan yang kokoh dalam menjalankan roda organisasi, dan mereka juga memiliki intergritas dan etika yang tinggi. Namun, pemimpin seperti ini terkadang cenderung menjadi perfeksionis dan terlalu kritis terhadap bawahannya.
  2. The Advisor, yaitu pemimpin yang bersedia memberikan bantuan dan saran tingkat tinggi bagi para pelanggannya. Motto dari advisor ini yaitu bawahannya adalah benar dan para pemimpin harus melakukan apa saja untuk menyenangkan bawahannya. Namun, yang harus diwaspadai, seorang advisor bisa jadi terlalu fokus pada kebutuhan organisasi saja, sehingga cenderung mengabaikan kebutuhan pribadinya.
  3. The Superstar, yaitu pemimpin yang dikelilingi oleh karisma dan energi tinggi dari Sang Superstar. Pemimpin dengan kepribadian seperti ini biasanya membangun organisasi mereka dengan personal brand mereka sendiri. Kelemahan tipe pemimpin seperti ini ialah bisa menjadi terlalu kompetitif dan workaholics.
  4. The Artist, yaitu kepribadian pemimpin yang senang menyendiri tapi memiliki kreativitas yang tinggi. Mereka biasanya sering kali ditemukan di bisnis yang membutuhkan kreativitas seperti pada organisasi agen periklanan, web design, dan lainnya. Kelemahan tipe ini ialah bisa jadi terlalu sensitif terhadap respon pelanggan, walaupun kritik dari mereka bersifat membangun.

Selama ini ada mitos yang beranggapan bahwa menjadi wirausahawan itu adalah proses panjang dari seleksi alamiah. Sosok wirausahawan sukses itu adalah orang yang berusia lanjut dengan wajah lelah didera perjuangan hidup. Sebuah anekdok, dulu orang hanya mengenal konsep biji dilempar ke kebun. Jika beruntung mendapat lahan yang baik, biji tersebut tumbuh menjadi pohon besar dengan buah yang lebat. Orang tua kita dulu banyak yang mengajarkan konsep tersebut, anak-anak tumbuh kembang tanpa pengarahan. Dari sekian banyak anak-anaknya, ada satu yang menjadi orang besar secara “kebetulan” menjadi sukses, lainnya akan bergantung pada saudaranya yang beruntung tersebut.

Sekarang kita melihat, sejak kecil anak-anak dididik dengan pengarahan untuk memiliki tujuan yang jelas untuk diharapkan mencapai cita-cita yang hebat. Ada investasi dan perhatian yang diberikan, sampai anak-anak tersebut semua menjadi “orang” sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. Konsepnya adalah pola pertanian atau industri yang diarahkan, dibimbing dan disemangati, sehingga berkembang sehat menjadi sesuatu yang direncanakan. Tentunya dengan menanam bibit yang tepat pada lahan yang sesuai dan pemupukan dan penyiraman yang baik.

Namun, sayangnya pengarahan itu seringkali berupa profesi yang umumnya dianggap memberikan jaminan, bukan sesuatu yang menjanjikan kesempatan atau peluang. Tujuan hidup menjadi pegawai atau profesional seperti pegawai negeri, dokter, pilot, insinyur, atau pengacara menjadi seolah tuntutan dan kebanggaan orang tua. Tidak heranlah apabila kenyataannya hanya kurang dari satu persen saja dari masyarakat Indonesia yang berkeinginan menjadi wirausahawan, atau pencari peluang (Irianto, 2010:24). Padahal, jika para orang tua memiliki visi kewirausahaan mungkin bisa lebih mengarahkan anaknya menjadi wirausahawan seperti pemilik rumah sakit dan mempekerjakan banyak dokter. Wirausahawan real estate yang mempekerjakan banyak arsitek. Bahkan bisa menjadi wirausahawan pesawat terbang atau pelayanan penerbangan yang tentu saja akan memerlukan banyak tenaga pilot/penerbang.

Oleh karena itu, pengembangan jiwa wirausaha menjadi sesuatu yang masih merupakan tantangan bangsa ke depan. Indoensia masih memerlukan banyak wirausahawan untuk mengembangkan sumber daya alam yang kini banyak dieksploitasi wirausahawan asing dan sumber daya manusia. Semua menyebabkan kondisi bangsa yang terpuruk dengan gelombang pengangguran yang tinggi.

Sebuah contoh kasus dapat kita lihat pada instant sukses yang diperagakan oleh program Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar, dan program lain semacamnya. Dengan mengikuti program pengembangan jiwa wirausaha, berkemungkinan besar, seseorang bisa menjadi wirausahawan instan yang berpeluang sukses di masa depan. Tentulah tidak semua orang bisa mengikuti program instan tersebut, oleh karena harus melalui saringan seleksi dari sekian juta orang pesaingnya. Mereka yang lebih siap dari pesaingnya yang tersisih lebih awal akan menjadi beruntung. Hal spesifiknya, untuk memenangkan Indonesia IDOL dan AFI akan lebih mudah apabila didukung oleh bakat alami yang disertai latihan dan upaya pengembangan. Sementara untuk menjadi wirausahawan tidak diperlukan bakat apapun, kecuali kemauan, kerja keras, dan pantang menyerah. Kegiatan semacam ini sangat memicu keinginan untuk berhasil, memompa semangat.

Wirausahawan itu bukan hanya seorang pedagang, atau orang yang mempunyai perusahaan dan dikenal sebagai wirausahawan. Aktivitas bisnis hanyalah merupakan salah satu bentuk kewirausahaan. Aktivitas kewirausahaan juga dapat dalam bentuk aktivitas pendidikan (academic entrepreneurship), aktivitas sosial kemasyarakatan (social entrepreneurship), dan aktivitas pemerintahan (government entrepreneurship). Oleh karen itu, wirausahawan adalah orang yang berani menjadi pemula, yang memulai dari aktivitas kelas ringan atau dari aktivitas yang tidak biasa dipikirkan orang lain. Ia adalah seorang perencana dan pelaksana yang mampu mengorganisir dan mengelola sebuah bisnis baru, mengatasi kendala untuk mendapatkan nilai-nilai guna yang lebih baik dan menguntungkan. Serta mampu membawa aktivitasnya berjalan dan berkembang meskipun tanpa kehadirannya dalam operasional kegiatannya. Seorang wirausahawan meletakkan dasar-dasar aktivitas dengan sebuah visi jangka panjang, serta mampu membawa iklim perubahan ke dalam budaya organisasinya.

Seorang wirausahawan mempunyai kepekaan khusus terhadap peluang yang diciptakan melalui terobosan inovasi untuk mendapatkan nilai tambah (added value). Ia tidak pernah menunggu peluang muncul, tetapi menciptakan adanya peluang dari pengamatan jeli terhadap perubahan, yang dapat diterapkan secara sistematis dalam tindakan nyata berupa bentuk produk atau jasa yang dibutuhkan orang banyak.

Hampir sama dengan ilmu bela diri atau profesi ketrampilan lainnya, wirausaha lebih tepat disebut sebagai seni wirausaha karena selain ilmu memerlukan latihan yang banyak untuk bisa menguasai kiatnya dengan tepat. Karena itulah muncul anggapan bahwa ilmu wirausaha diturunkan sebagai bakat, dipelajari sejak kecil dari pengalaman yang dimulai sebagai magang. Pada hal banyak juga yang ditimba dari pengalaman pernah bekerja pada bidang aktivitas tertentu, kemudian menemukan kiat-kiat sukses dan berani memulai usaha sendiri.

Dari banyak kasus orang-orang yang menjadi wirausaha, karena “keberaniannya” untuk mencoba terjadi karena banyak alasan. Apakah itu karena telah terbiasa dengan lingkungan usahanya dari pengalaman keluarga, belajar atau “terpaksa” menjadi wirausaha melalui perjuangan penuh tantangan menghadapi seleksi alamiah. Apapun alasannya, bila telah “menjadi” atau “melakukan”, maka seseorang akan berusaha untuk terus belajar dari pengalamannya untuk menjadi lebih baik.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: