Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Pembelajaran Sains Model Kemitraan di SMP

Posted by Mahmuddin pada Agustus 10, 2007

Masyarakat dan Lembaga Swasta memiliki potensi peran yang besar dalam mengembangkan pendidikan. Masyarakat dan Lembaga Swasta dapat menjadi objek sekaligus sumber belajar yang otentik bagi siswa. Lembaga-lembaga tersebut paling tidak dapat memfasilitasi terciptanya pembelajaran yang bermakna dan dimaknai bagi anak. Sains merupakan mata pelajaran yang memberikan pengalaman pembelajaran cara berpikir sebagai suatu struktur pengetahuan yang utuh. Sains menggunakan pendekatan empiris dalam mencari penjelasan alami tentang fenomena alam. Dengan demikian, pembelajaran sains menjadi wahana dalam menyiapkan siswa sebagai anggota masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan dan mengkaji solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Pembelajaran Sains dapat disetting menjadi pembelajaran yang mengeksplorasi fakta-fakta aktual untuk membangun sebuah konsep dan nilai. Namun, mengeksplorasi fakta saja belumlah cukup bagi siswa untuk membangun jiwa kreatif dan kritis, sehingga pembelajaran mestinya memberikan ruang bagi anak mengembangkan kemampuan menganalisa dan mengevaluasi fakta-fakta yang ada untuk mengonstruksi fakta baru sebagai gagasan terhadap solusi atas masalah yang ditemukan (belajar melebihi fakta).  Kajian dalam makalah ini difokuskan pada pengembangan program pembelajaran yang melibatkan masyarakat (termasuk pemerintah) dan lembaga swasta (perusahaan) sebagai mitra dan sumber belajar. Di mana dalam kemitraan sekolah, masyarakat dan lembaga swasta sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab terhadap terciptanya pendidikan yang berkualitas dimanifestasikan dengan turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pembelajaran. Program pembelajaran ini kemudian disebut  pembelajaran model kemitraan.

Kemitraan Sekolah, Masyarakat dan Perusahaan

Pentingnya pendidikan yang berkualitas bagi anak serta tuntutan kualifikasi dan kompetensi dalam kehidupan dunia kerja, maka sekolah perlu membangun hubungan yang selaras dengan masyarakat, dunia usaha, dan semua pihak-pihak yang terkait. Hubungan ini dibangun dalam konteks kemitraan sebagi upaya terciptanya pendidikan berkualitas bagi anak.Secara hukum, keterlibatan masyarakat dalam pendidikan diatur dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan (Pasal8).  Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan (Pasal 54, ayat1). Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan (Pasal 54, Ayat 2).        

Keterlibatan masyarakat dan lembaga swasta dalam pendidikan di sekolah diharapkan dapat memberikan konstribusi terhadap pembentukan keterampilan hidup (life skill) yang dapat berupa keterampilan berpikir (thinking skill), keterampilan meneliti (research skill),  keterampilan social (social skill), keterampilan komunikasi (communication skill), dan keterampilan dalam menyelesaikan masalah (problem solving skill), serta pengembangan kreativitas dan daya cipta.Di dalam kegiatan pembelajaran, masyarakat dan perusahaan dapat terlibat sebagai sumber informasi, nara sumber dalam diskusi/dialog, praktikum laboratorium, praktikum lapangan, responden dalam survey/pengamatan/wawancara, sponsor dalam kegiatan belajar dan event-event tertentu, penyediaan fasilitas belajar yang mutakhir dan prasarana penunjang lainnya, serta dapat memberikan pelatihan skill-skill tertentu yang diperlukan.

Membentuk hubungan kemitraan dalam pengembangan pembelajaran, sekolah secara proaktif membangun komunikasi dengan orangtua, masyarakat, perusahaan dan pihak-pihak lain yang dbutuhkan. Sekolah dalam hal ini, melakukan beberapa hal:1.      Sosialisasi program pembelajaran, guna membangun ekspektasi terhadap pembelajaran. 2.      Komunikasi intensif kepada orang tua, masyarakat, dan perusahaan untuk penyusunan program bersama.3.      Melakukan kerja bersama dalam mewujudkan pembelajaran yang bermaknaBeberapa program yang telah dilakukan dengan kemitraan oleh SMP YPS Singkole bekerja sama dengan masyarakat, dan perusahaan-perusahaan di Soroako dalam mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, dan kepedulian sosial anak:

          Lestarikan Danau Matano, dalam bentuk presentasi dan lomba poster ajakan menjaga kebersihan, mencegah pencemaran/pembuangan sampah dan limbah, pelestarian komunitas organisme endemik air danau, kerja sama dengan Tim Peneliti SP Univesity.

          Safety Work, dalam bentuk presentasi dan lomba poster sosialisasi keselamatan dalam bekerja terutama di air, di penebangan, di peledakan dan di kendaraan. Hasilnya dibuat dalam kalender untuk pekerja, kerja sama dengan EHS PT. Inco

          Demam Berdarah Dangue, dalam bentuk presentasi, Lomba poster  pencegahan dan penanggulangan, aksi peduli DBD dan membersihkan lingkungan pasar dan pemukiman, kerja sama dengan Rumah Sakit PT. Inco dan Pemerintah Kecamatan.

          Hemat Energy, dalam bentuk presentasi dan lomba poster prilaku hemat energy, kerja sama dengan konsultan engineering, Australia.

          Maining Tour, dalam bentuk kunjungan ke Lokasi Pertambangan, pengenalan teknik eksplorasi, analisa sampel, penambangan dan pengolahan nikel, mempelajari teknik  revegetasi lahan purna tambang, dan teknik pembibitan, kerja sama dengan PT. Inco.

          Save Raiding, dalam bentuk workshop keselamatan berkendara motor, pemutaran film save raiding, kerja sama dengan Save Driving Training, Australia.

          Kunjungan belajar, dalam bentuk presentasi dan praktikum di laboratorium Rumah Sakit, kerja sama dengan Rumah Sakit PT. Inco

          Tamu Istimewa, dalam bentuk presentasi dalam pembelajaran sains di kelas

Pembelajaran Sains Melebihi Fakta

Pembelajaran melebihi fakta merupakan salah satu dari konsep pembelajaran dalam Concep Based Curriculum. Menurut Pebruanto (2007), Concept Based Curriculum memuat 3 konsep belajar yaitu belajar melebihi fakta (learning beyond the facts), belajar bagaimana berpikir (learning how to think), belajar bagaimana menemukan dan mengonstruksi fakta baru (learning how to find and construct new facts).

Berpikir konseptual merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi/mengenal pola-pola atau hubungan/keterkaitan-keterkaitan antara situasi-situasi yang tidak terkait secara jelas, dan mengidentifikasi isu-isu utama atau mendasar dalam situasi-situasi yang kompleks.  Berpikir konseptual termasuk menggunakan pertimbangan yang kreatif, konseptual atau induktif (atas dasar fakta yang diketahui).Pengembangan pembelajaran dengan concept based curriculum merujuk pada struktur pengetahuan di mana fakta dielaborasi menjadi konsep, prinsip dan teori. Konsep tersebut juga mengacu pada revisi taksonomi Bloom oleh Lorin Anderson yang mengklasifikasikan enam tingkatan berpikir dalam belajar meliputi mengingat (Remembering), memahami (understanding), mengaplikasikan (applying), menganalisa (analysing), mengevaluasi (evaluating) dan mencipta (creating).

Pembelajaran  sains meliputi tiga hal utama yaitu fakta, konsep, dan nilai (value). Di mana fakta-fakta dieksplorasi dan selanjutnya dikonseptualisasi untuk melahirkan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan demikian, pembelajaran akan mengembangkan kemampuan berpikir anak dalam memahami, menganalisa dan mengevaluasi fakta-fakta untuk mencari solusi dari masalah yang ditemukan dan mengonstruksi fakta baru sebagai pengembangan daya cipta (creating).

Dalam pembelajaran melebihi fakta, terdapat 5 aspek pengalaman belajar yang dikembangkan menjadi siklus belajar (Pebruanto, 2007), yaitu:

1.      Exploring, merespon informasi baru, mengeksplorasi fakta-fakta dengan petunjuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan dengan siswa lain, atau menggali informasi dari guru, ahli/pakar atau sumber-sumber yang lain.

2.      Planning, menyusun rencana kerja, mengidentifikasi alat dan bahan yang diperlukan, menentukan langkah-langkah, desain karya dan rencana lainnya.

3.      Doing/acting, melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, membuat karya dan melaporkan hasilnya, menyelesaikan masalah.

4.      Communicating, mengkomunikasikan/mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, penemuan, atau hasil karyanya, sharing dan diskusi.

5.      Reflecting, mengevaluasi proses dan hasil yang telah dicapai, mencari kelemahan-kekurangan guna meningkatkan efektivitas perencanaan. 

Mengembangkan Program Pembelajaran Melebihi Fakta

Salah satu model pengembangan program pembelajaran melebihi fakta dapat diurutkan sebagai berikut:

1.      Pemetaan Standar Kompotensi dan Kompotensi Dasar : mengidentifikasi kompetensi dasar yang memungkinkan untuk dipadukan dalam sebuah topik pembelajaran.

2.      Menentukan fokus belajar siswa: mengidentifikasi kata kunci dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, menentukan hubungan kerangka konsep untuk menetapkan fokus belajar.

3.      Menentukan hasil belajar dan indikator: dirumuskan berdasarkan hubungan kerangka konsep yang telah ditetapkan, dijabarkan secara spesifik dan terukur. Hasil belajar hendaknya dapat mengembangkan keterampilan berpikir (High Order of Thingking) khususnya daya cipta.

4.      Merencanakan penilaian: menentukan aspek yang dinilai dan cara menilainya, meliputi 3 ranah dalam pencapaian kompetensi, yaitu pengetahuan, keterampilaan (skill), dan sikap. Penilaian terhadap siswa dilakukan secara otentik (authentic assessment).

5.      Membuat siklus belajar:  Menyusun tahapan aktivitas belajar, yang secara inplisit meliputi lima aspek yakni exploring, planning, doing, communicating dan reflecting.

Berikut ini adalah sebuah contoh program pembelajaran pada kelas VII yang dikembangkan dari model di atas.

Tema : Save Matano Lake

Deskripsi : Danau Matano merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat di Soroako dan seluruh kampung yang ada di sekitarnya, terkhusus bagi keberadaan PT. Inco sebagai perusahaan penambangan Nikel di Soroako. Danau Matano menjadi sumber air, sarana wisata, sumber energi bagi PLTA bagi pabrik, merupakan sebuah ekosistem yang memiliki banyak organisme endemik yang menjadi kekayaan alam dan sangat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Tujuan : Menjelaskan pengaruh kepadatan populasi manusia di Soroako terhadap kerusakan ekosistem di pesisir Danau Matano, mengeksposisi sebuah kasus kerusakan ekosistem di Danau Matano, melakukan upaya nyata penyelamatan Danau Matano

Langkah Pembelajaran:

Tahap I: Kesepakatan, sharing dan tanya jawab tentang kondisi ekosistem Danau Matano, merumuskan rencana pengamatan lapangan. Pada tahap ini, guru memfasilitasi diskusi untuk menunjukkan masalah yang akan dikaji sedemikian sehingga terbangun ownership terhadap pembelajaran. Siswa dapat membaca artikel, hand out, dan sumber-sumber lainnya untuk mengetahui perkembangan kondisi ekosistem danau matano. Siswa dikelompokkan dan difasilitasi untuk merumuskan rencana pengamatan lapangan yang akan dilakukan (siswa diberikan panduan sederhana).  Pada tahap ini pula, guru menyampaikan bentuk penilaian belajar dan kriteria-kriteria yang digunakan dalam penilaian.

Tahap II: Melaksanakan Pengamatan di lokasi pemukiman penduduk di pesisir Danau Matano, membuat laporan hasil pengamatan. Pada tahap ini, PT. Inco memfasilitasi transportasi menuju ke lokasi. Siswa mencari data yang diperlukan di kantor desa dan observasi pemukiman pesisir. Setelah itu, siswa  dengan kelompoknya masing-masing menyusun laporan hasil pengamatan di rumah, dan mereka dapat melakukan pengamatan ulang di luar jam sekolah jika diperlukan.

Tahap III:  Merencanakan dan membuat eksposisi kasus gangguan ekosistem. Pada tahap ini, siswa dalam kelompoknya berdiskusi untuk menentukan sebuah kasus yang ditemukan. Siswa mengidentifikasi masalah, mendeskripsikan penyebab, dan merumuskan solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya. Siswa diharapkan dapat menciptakan sebuah karya sebagai model/prototype/konsep dalam bentuk produk, poster, brosur, dan lainnya dari gagasan solusi yang dihasilkan. Siswa menyiapkan rencana  presentasi.

Tahap IV: Presentasi laporan dan eksposisi kasus. Pada tahap ini, siswa mempresentasikan laporan hasil pengamatan, mengkomunikasikan idenya dalam mengatasi sebuah kasus yang diekpos dihadapan kelas, dan secara terbuka menerima tanggapan, kritikan maupun penilaian dari siswa kelompok lain. 

Tahap V: Presentasi dari PT. Inco tentang Eksistensi Danau Matano dan upaya pelestariannya, Lomba Menggambar Poster (dilaksanakan di luar jam belajar). Pada tahap ini, siswa mendapatkan pengayaan informasi dan pengembangan konsep tentang upaya melestarikan ekosistem Danau Matano untuk kehidupan. Siswa dengan hasil belajarnya melakukan sharing dan brainstorming. Setelah itu siswa berkompetisi untuk membuat poster yang berisi himbauan tentang pelestarian Danau Matano. Berdasarkan  kriteria yang ditetapkan, 3 pemenang mendapatkan hadiah dari PT. Inco dan karyanya akan diperbanyak untuk dipublikasikan kepada seluruh orang tua siswa, karyawan PT. Inco dan masyarakat Soroako dan sekitarnya.

Tahap VI: Refleksi. Pada tahap ini siswa melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan, kelemahan dan kelebihan dari perencanaan dan pelakasanaan proyek yang dikerjakan, serta kesan dan saran untuk pengembangannya. Pada tahap ini pula, hasil penilaian terhadap siswa selama proses pembelajaran dengan tema “save Matano Lake” disampaikan secara terbuka.

Penilaian:

Penilaian yang dilakukan meliputi 3 aspek, yaitu:1)      Pengetahuan : dampak kepadatan populasi terhadap lingkungan, dampak kerusakan lingkungan terhadap manusia, pentingnya pemeliharaan lingkungan, cara mengatasi kerusakan lingkungan2)      Keterampilan: researching (mengumpulkan data, mengolah data, menyimpulkan data), thinking (memahami, menganilisa, membuat), communicating (kreativitas mengkomunikasikan hasil, cara menyampaikan pendapat)3)        Sikap:  rasa ingin tahu, obyektivitas, kejujuran, ketekunan, keterbukaan, kerjasama, tanggung jawab.

Keterlibatan Masyarakat dan Perusahaan dalam Pembelajaran:

Model pembelajaran di atas, masyarakat berperan sebagai sumber informasi dalam pengamatan dan sasaran objek belajar dalam sosialisasi gagasan. Sedangkan perusahaan berperan dalam memfasilitasi transportasi, nara sumber, melakukan penilaian karya siswa dan sponsor dalam belajar.

Pembelajaran sains melebihi fakta dengan model kemitraan sekolah, masyarakat dan perusahaan memiliki beberapa nilai lebih/manfaat yaitu : 1) Siswa,  mendapatkan materi dengan sumber otentik, sumbernya banyak dan bervariasi serta dapat dipilih sesuai kebutuhan, pengalaman belajar yang kontekstual, melibatkan potensi intelektual, emosional, social, suasana yang dinamis dan santai (kelas tidak terbatas oleh ruang), melatih daya kreasi dan daya cipta ilmiah, mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang sesuai, penilaian dilakukan secara terbuka dan dilakukan oleh banyak pihak. 2) Guru, dapat mengembangkan materi pembelajaran lebih mendalam, penilaian secara objektif, mendapatkan masukan dalam pengembangan pembelajaran, pembelajaran dilaksanakan secara bersama. 3) Sekolah, mengembangkan kemitraan dalam mengelolah sekolah dan penyelenggaraan pembelajaran. 4) Masyarakat,  mendapatkan social feedback, kepedulian terhadap pendidikan anak. 5) Perusahaan, sebagai social responsibility, community development, kepedulian terhadap pendidikan.Namun dalam pelaksanaan pembelajaran model ini, berbagai masalah dapat terjadi diantaranya target waktu yang terlampaui sehingga memerlukan pengalokasian waktu yang tepat, kemampuan anak dalam bekerja dan berpikir ilmiah masih rendah sehingga perlu penyederhanaan nilai ilmiah sesuai tingkat perkembangan anak.Pembelajaran dengan model ini memungkinkan dapat dikembangkan dalam pembelajaran sains maupun pada mata pelajaran lain di sekolah-sekolah, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan yang berkualitas bagi anak bangsa.  

Referensi

Forhan, M., 2005. Bloom’s Taxonomy – Emerging Perspectives on learning, Teaching and Technolgy,  from http://Project.coe.uga.edu/epltt/index.php?tittle=Bloom

Harefa, A., 2002, Menjadi Manusia Pembelajar, Penerbit Kompas, Jakarta

Johnson, E.B., 2007, Contextual Teaching and Learning, MLC, Bandung

Majalah Guru Profesional, Teachers Guide, Vol 1 Edisi 1&2 07, 2007

Pebruanto, D.S., 2006, Kurikulum 2006: Berkat atau Musibah, file arsip

Pebruanto, D.S., 2007, Mengelolah Kurikulum 2006: melatih siswa menjadi produsen, file arsip 

6 Tanggapan to “Pembelajaran Sains Model Kemitraan di SMP”

  1. S. Habnoer said

    Kayaknya banyak yang tertarik dengan info ini. Dalam beberapa hari saja sudah di-hits sebanyak 126 kali.

  2. Paijo said

    Mungkin bagus kalau pada waktu dibuka, artikelnya cuma kelihatan sebagian dulu ( misalnya 1 paragraf ), kalau pengunjung tertarik baru diklick untuk memunculkan artikel tersebut secara utuh. Untuk itu, bisa dilakukan pada saat menulis atau mengedit ulang artikel.

    Mumpung artikelnya belum banyak, atur ki baik-baik tampilan dan halaman utama supaya cantik dan mudah diakses oleh pengunjung. Untuk itu, sudah ada panduannya dalam bahasa Indonesia. Saya sudah kasih link di blog saya, namanya Panduan Tidak Resmi WordPress.com. Saya termasuk yang menyesal karena tidak atur rapi sejak pertama dan sekarang sudah terlambat bagi saya.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  3. rusle said

    wah, adami tawwa blog nya daeng Amud…pasti dg Sultan yang kompai..he2.

    tulisannnya bagus daeng, lengkap…tp ada yg kurang ..save raiding seharusnya tertulis: Safe Riding…

  4. agusampurno said

    salam inkuiri pak..

  5. FENNY said

    PAK MAHMUDIN, DI TUNGGU ARTIKEL KEPENDIDIKAN LAINNYA YA….

  6. di tunggu artikel yang lainnya ya pak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: