Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Kalah dengan Baik di Negeri Manusia Bugis

Posted by Mahmuddin pada Desember 27, 2007

Pilkada Gubernur Sul-Sel 2007 berlangsung damai dan mendebarkan, namun memunculkan persoalan berat yang menguji ketulusan demokrasi masyarakat dan politisi di Sulawesi Selatan.  Bermodalkan berbagai data dan fakta kecurangan dalam pemungutan suara, kubu Asmara yang tidak menerima hasil dalam pilkada mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung. Gayung bersambut, Dewan Hakim MA memutuskan pengabulan tuntutan tersebut dan menetapkan Pilkada Ulang diempat kabupaten (Bone, Gowa, Bantaeng dan Tana Toraja). KPU sebagai penyelenggara Pilkada menganggap keputusan MA hasil pilkada Sul-Sel berlebihan. Bahkan menyatakan menolak putusan tersebut dan menjadikan pilkada depok 2007 sebagai acuan untuk mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Berbagai pihak turut bereaksi atas hal ini, tak terkecuali masyarakat yang mengatasnamakan kelompok-kelompok tertentu turut menyatakan pendapat dengan caranya masing-masing. Namun, tidak sedikit masyarakat yang mengalami kebingungan atas teka-teki dibalik misteri perjalanan sejarah yang akan tertoreh dalam buku pelangi demokrasi negeri manusia bugis.Apa sesungguhnya yang terjadi pada “manusia bugis” saat ini???Fenomena di atas bukan saja dapat ditemukan dalam setiap ajang pemilihan dalam jabatan, tetapi dalam persaingan bisnis dan kompetisi prestasipun sering kali mempertontonkan hal serupa. Ketika PSM tersingkir dari ajang Piala Copa 2007, supporter mengamuk di Stadion Mattalatta. Ketika Karebosi direvitalisasi, pihak yang merasa dirugikan mengamuk dengan merusak pagar pelindung lokasi proyek. Ketika pedagang kaki lima harus dieksekusi dari lokasinya dibibir jalan, mereka mengamuk dan melawan petugas. Ketika anak tidak lulus dari ujian masuk sekolah, maka orang tua marah dan protes ke pihak sekolah dan pemerintah. Dan banyak lagi contoh kasus-kasus lain yang menunjukkan betapa saat ini masyarakat dilanda suatu gejala ketidaksiapan kalah dan ketidaksiapan menerima kenyataan.Dr. Henry Could (2007) dalam bukunya Integritas (keberanian memenuhi tuntutan kenyataan) menceritakan suatu kisah. Pada suatu forum dia berbicara dengan orang tua tentang membesarkan anak-anak dengan karakter sukses, seorang wanita bertanya “Jika anda dapat memberi tahu para orang tua satu hal terpenting untuk diajarkan kepada anak-anak mereka tentang kesusksesan, apa yang akan anda katakan? Henry menjawab singkat, “saya akan mengajari mereka  cara kalah”. Wanita itu tersentak dan menatap Henry dengan aneh, dan berkata “mengapa anda ingin mengajari mereka cara kalah?”. Henry lagi-lagi menjawab singkat, “karena mereka akan mengalaminya”. Wanita itu hanya menatap Henry dan mengangguk perlahan.Semua orang menginginkan keberhasilan, namun kita tidak sering fokus pada cara kalah dengan baik, kecuali bersyukur setelah sebuah pemilihan atau kegiatan olah raga dan menyampaikan selamat kepada pihak lawan. Tapi hal ini tidak memiliki banyak pengaruh bagi kesuksesan di masa depan.Mengapa belajar cara kalah dengan baik???Menurut Henry, ada dua alasan berlapis mengapa penting belajar cara kalah yang baik. Pertama, kita semua mengalami kekalahan. Keadaan dalam realitas sering kali tidak berjalan dengan baik sesuai harapan kita dan kadang tidak bisa diperbaiki, walaupun dengan kegigihan, kreativitas, dan imajinasi. Kadang, sesuatu yang diharapkan memang takkan terjadi/terwujud, dan kenyataannya, lebih banyak kegigihan dapat semakin menyesatkan kita, menyia-nyiakan sumber daya, waktu, dan energi. Kita perlu melambaikan bendera putih. Jadi kalah adalah kenyataan yang dijumpai semua orang, dan karena itu perlu belajar cara menegosiasikannya.Alasan kedua (ini yang paling penting), perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah bukannya pemenang tidak pernah kalah. Perbedaanya adalah pemenang kalah dengan baik, dan pecundang kalah dengan buruk. Akibatnya, para pemenang lebih jarang kalah di masa depan dan tidak kalah persis seperti terakhir kali mereka kalah. Karena mereka telah belajar dari kekalahan tersebut dan tidak mengalami pola itu. Sedangkan para pecundang tidak belajar dari apa yang mereka lakukan, dan cenderung membawa kerugian atau pola itu ke dalam bisnis atau hubungan mereka yang berikutnya, dan mengulang kekalahan yang sama. Karena itu, mereka tidak menjadi orang yang kalah, seperti yang dialami semua orang,  tapi menjadi orang yang tidak pernah menang karena berulang kali melakukan penyebab kekalahan mereka yang terakhir.Berdasarkan alasan yang dikemukakan oleh Hendry di atas, maka ada dua aspek kekalahan yang harus dipelajari oleh masyarakat Negeri Manusia Bugis. Aspek pertama adalah kemampuan untuk melepaskan dan menghadapi kenyataan bahwa anda telah kalah. Seperti apapun cara anda mengatakannya, kenyataannya adalah hal itu sudah berakhir, dan lebih banyak usaha, perhatian, atau tindakan akan sia-sia. Tapi, orang tertentu, karena permasalahan karakter, tidak dapat membiarkannya. Mereka tidak dapat menerima kekalahan dan membuat target baru. Mereka seperti sedang mencari buah di pohon yang sedang menggugurkan daunnya. Lebih baik kita menggunakan energi untuk siap menyambut musim berbuah sehingga kita dapat menabur benih yang memiliki kesempatan untuk tumbuh.Ketika lapangan Karebosi direvitalisasi, muncul penolakan dari berbagai pihak dengan alasan dan cara-cara mereka sendiri. Bahkan kajian nilai manfaat, hak publik, dasar hukum, proses kebijakan, nilai historis sampai keuntungan ekonomi yang diperoleh pemerintah dari hasil revitalisasi dijadikan dasar untuk menolak diteruskannya proyek ini. Tak dapat disangkal akan terjadinya perubahan yang sangat luar biasa dari proyek ini. Tetapi untuk kemajuan yang berarti bagi masa depan Karebosi, revitalisasi diperlukan. Kalaupun terjadi kekeliruan dalam konsep revitalisasi dan prosedur kebijakannya, subtansi tidak perlu dikaburkan oleh cara kita merespon perubahan.  Untuk menjaga kelestariannya, Karebosi harus dapat lahir kembali sebagai Karebosi modern yang tidak kehilangan jati diri. Karebosi tidak boleh dibiarkan tenggelam oleh banjir dari tumpahan air atap gedung pencakar langit di sekelilingnya dan tertanam di bawah luapan debu dan asap teknologi karena  Karebosi pun berhak menikmati kemajuan zaman.Kemampuan membuat sesuatu berjalan baik berhubungan dengan kemampuan untuk melepaskan hal yang tidak berjalan dengan baik, meratapinya, dan melanjutkan hidup. Jika sesuatu tidak diperbaiki dan hilang, itu saatnya mengibarkan bendera putih serta melepaskannya, dan menjadikannya masa lalu. Beberapa orang mandek dalam kehilangan tersebut, karena mereka tidak dapat menyerah dan mengatasi rasa serta makna kehilangan. Dan mereka berpegang pada sesuatu yang telah mati.Aspek kedua dari menghadapi kekalahan dengan baik adalah melihat ke belakang setelah anda melepaskan. Setelah harapan agar sesuatu berjalan dengan baik dilepaskan dan kekalahan dirangkul, maka alasan kekalahan harus ditelaah, dipahami, dan dipelajari. Jika orang yang bersangkutan melakukan hal itu sebelum melanjutkan ke urusan yang serupa, kekalahan itu tidak perlu berulang. Pola yang berkontribusi bagi kerugian terakhir akan berkontribusi bagi kerugian berikutnya. Kita cenderung gagal dengan cara yang sama hingga kita mengubah cara tersebut. Dengan demikian, autopsi harus menjadi bagian cara berpikir yang harus dipelajari dan dimiliki.Dalam konteks masalah yang sedang melanda Negeri Manusia Bugis ini, kita mengalami berbagai kenyataan yang sesungguhnya perlu diautopsi. Kekalahan pihak Asmara pada pilkada Gubernur 5 November 2007 hendaknya menjadi pelajaran bagi kubu Golkar dan pendukung untuk mengevaluasi strategi penggalangan suara, figur yang diusung serta problem internal dalam partainya. Secara khusus Golkar harus mengakui bahwa era Amin Syam yang sudah 15 tahun memimpin partai telah berakhir, saatnya memasuki era baru dengan figur baru yang lebih kosmopolitan. Tak perlu menginvestasikan dengan gigih sumber daya, kreativitas, waktu dan energi yang pada akhirnya akan memudarkan reputasi kedemokratisan partai. Akan tetapi jika pilkada ulang benar-benar terwujud pada empat kabupaten, maka harus rela membedah strateginya yang lalu dan berani mengubah cara-cara yang lebih efektif, elegan, serta tidak jekkong dan tidak ceko-ceko.Demikian halnya bagi pihak Sayang yang ditetapkan KPUD sebagai pemenang dalam Pilkada ini. Hendaknya tak perlu membuang sumber daya, dan energi untuk melakukan perlawanan dan penolakan terhadap proses yang sudah ditetapkan oleh Mahkamah Agung. Perlawanan dan penolakan hanya akan menampakkan kelemahan kepemimpinan dan ketidaksiapannya berdiri di bawah payung hukum Indonesia.  Dampaknya dapat menurunkan kepercayaan masyarakat bagi figurnya dan bisa menjadi penyebab beralihnya pilihan masyarakat kepada pihak yang lebih elegan. Jika pemilihan ulang benar-benar dilakukan, energi hendaknya diarahkan untuk mengevaluasi strategi dan menyiapkan langkah inovatif untuk menguatkan dukungan serta membuktikan diri sebagai pemenang, bukan pecundang yang bermain curang. Bahwasanya pemimpin negeri ini dipilih oleh rakyat dan untuk rakyat. Jangan biarkan rakyat Negeri Manusia Bugis ini menderita dan jadi korban hanya karena ambisi memimpin dan ketidaksiapan untuk dipimpin. Mari belajar kalah dengan baik!

Satu Tanggapan to “Kalah dengan Baik di Negeri Manusia Bugis”

  1. iye daeng
    memang kita masih sulit untuk belajar menjadi pecundang terhormat…walaupun banyak yang sudah memberi contoh.
    siri dan pesse mungkin dijadikan tameng yang salah tempat kayaknya..

    turut sedih, berapa banyak duit dan enegri lagi yang bakal terkuras hanya untuk hal-hal yang sesungguhnya tak penuh menyentuh hajat hidup rakyat kebanyakan – yang sayangnya selalu menjadi obyek dan korban sekaligus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: