Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Ujian Nasional: Mission Im-possible

Posted by Mahmuddin pada Februari 14, 2009

Sebagaimana biasa pada setiap semester 2 akhir tahun pelajaran, sekolah disibukkan persiapan menjelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Biasalah, UN-kan agenda tahunan Departemen Pendidikan Nasional di Republik ini. UN sejatinya dilaksanakan untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi anak selama mengikuti program belajar pada setiap tingkat satuan pendidikan. Dalam implementasinya, hasil UN dijadikan sebagai dasar menentukan kelulusan anak sebagaimana ditetapkan dalam peraturan menteri  (Mendiknas).

Berdasarkan Permen Diknas nomor 78 tahun 2008 tentang Ujian Nasional pasal 16 ayat 1, dinyatakan bahwa peserta UN dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN… “memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk semua mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya”. Jika dibandingkan dengan standar kelulusan pada UN 2008, UN 2009 terjadi peningkatan standar kelulusan pada nilai rata-rata yakni dari 5,25 menjadi 5,50. Standar kelulusan UN dari tahun ke tahun memang selalu mengalami peningkatan sejak tahun 2003.

Hasil UN dari tahun ke tahun juga menunjukkan grafik yang fluktuatif, baik pencapaian nilai maupun tingkat kelulusan dan tingkat ketidaklulusan anak. Data yang disampaikan oleh BSNP sebagaimana diberitakan koran Kompas (20/6/08), kelulusan UN SMA/MA/SMK tahun 2008 turun 0,94 persen dari 93,34 persen menjadi 91,73 persen. Kelulusan UN SMP/MTs/SMP Terbuka turun 0,59 persen dari 93,34 persen menjadi 92,75 persen.

BSNP mengakui bahwa menurunnya tingkat kelulusan disebabkan karena meningkatnya standar kelulusan dalam UN.  Sehingga BSNP sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap standarisasi UN, memprediksi bahwa tingkat ketidaklulusan pada UN 2009 diperkiran mencapai 10 persen dan tingkat kelulusan pada 2009 kembali akan turun dan terjun bebas. Sebuah kondisi yang aneh, mereka tahu anak tidak akan lulus tetapi UN tetap saja jadi syarat kelulusan.

BSNP boleh saja memprediksi ketidaklulusan secara nasional sampai 10 persen, tetapi hal itu tidak bagi sekolah. Bagi sekolah tidak ada pilihan lain yakni harus berusaha semaksimal mungkin meluluskan anak didiknya. Betapa tidak, kelulusan UN selain menjadi indikator kualitas pembelajaran sekolah dan pastinya akan jadi nilai jual bagi orangtua, kelulusan UN juga menjadi indikator keberhasilan sekolah bagi pencapaian performance yang baik bagi penyelenggara pendidikan (baca: Depdiknas atau Yayasan).

Bagi beberapa Daerah dan Yayasan bahkan menargetkan kelulusan UN bagi sekolah harus 100 persen pada setiap tahun. Meskipun pada kenyataannya kelulusan umumnya tidak pernah mencapai 100 persen. Target ini tentu menjadi beban yang berat bagi sekolah, terutama sekolah yang heterogen dan berdaya dukung rendah.

Standar nilai kelulusan yang meningkat dan target kelulusan 100 persen, memicu meningginya tensi dunia pendidikan. Bahkan terkadang turut berpengaruh terhadap peningkatan tensi darah para guru dan kepala sekolah. Demi tanggung jawab, maka segala potensi harus dimunculkan dan dimaksimalkan untuk mencapai target. Tak heranlah, kalau di semester 2 pada setiap akhir tahun pelajaran, guru dan sekolah, anak dan orang tua sangat sibuk.

Beberapa program yang diupayakan sekolah dalam menyiapkan kesuksesan anak mengikuti UN adalah pembelajaran reguler diselesaikan pada semester 1 sehingga di semester 2 pembelajaran dilakukan dalam bentuk review materi dari kelas 1, pemberian les tambahan di sore hari dan/atau di hari sabtu, penyusunan dan pembahasan soal latihan UN, Try out secara berkala/sekali sebulan, pemberian strategi analisa soal dan teknik memilih jawaban, klinik ujian nasional 24 jam,  bahkan sampai melibatkan pihak ketiga (bimbingan belajar). Program-program tersebut tentu saja diharapkan dapat memberikan bekal yang cukup bagi anak untuk lulus dalam UN. Program tersebut tentu saja harus dikelola sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kejenuhan bagi anak.

Beberapa sekolah mengorganisir pelaksanaan UN dengan membentuk tim sukses. Tetapi dalam kenyataanya, terjadi berbagai skandal pemberian kunci jawaban dan penggantian jawaban pada LJK oleh tim sukses. Ironisnya, beberapa skandal sepertinya dilakukan secara terencana, terorganisir dan sistematis. Beberapa Guru pengawas UN  mengungkapkan adanya pesan tersirat dari rayon untuk membuat suasana ruang ujian yang memungkinkan adanya saling berbagi jawaban bagi peserta ujian. Bahkan kasus impor jawaban dari luar ruangan ujian seolah-olah menjadi rahasia umum dalam pelaksanaan UN.

Kalau situasi pelaksanaan UN demikian adanya, sepertinya UN tidak dapat dijadikan dasar untuk pengembangan dunia pendidikan di tanah air melainkan hanya filter bagi anak untuk mendapatkan Ijasah pendidikan sekolah formal. Peningkatan standar kelulusan yang tidak diimbangi oleh peningkatan kualitas sekolah dan kualitas sumber daya pendukung, ditambah lagi dengan target kelulusan 100 persen menjadikan pelaksanaan UN sebagai Mission “Im”-possible bagi guru.

7 Tanggapan to “Ujian Nasional: Mission Im-possible”

  1. apalagi untuk sekolah dasar saya pikir tidak perlu ada uasbn

  2. Anonim said

    Fenomena y6 ada dari tahun ke tahun trjdi konversi trhdap uan pmbrian kuncilah,pnukran ljk dn ln2 jd u pal6i pmrhnth mgdkn uan m6pa tdk d.Gt d6n cr ln u mnntkn kllusan mgpa tdk realitax pelajar y6 pntr,dan cerdas tdk lulus mlnkn pljr y6 mlas lulus jd pljrn y6 pntr tsb ttux mrsa s6t d,rugikan.Dn z pkr u m6hpus kcurangan pda uan 2 s6t sulit u d,trapkan.

  3. qutilang said

    kapan di update??

  4. hadi said

    kalau gitu para guru yg berbuat curang terhadap pelaksanaan uN harus taubatan nasukha

  5. Paskalina said

    Salam kenal Mas Mahmuddin,
    Saya dari wakil sebuah penerbit di Jakarta, ingin mengajak Anda untuk bekerja sama dalam penulisan buku tentang Pedagogi yang akan kami terbitkan.
    Kami ingin jawaban dari Anda secapatnya.
    Anda bisa menjawabnya lewat email paskalina_o@yahoo.co.id atau nomor tlp kantor di 021-4600072.

    Terima kasih.

  6. rani said

    wah, saya lg nyari masalah UN untuk tugas makalah.
    saya pinjem ya pak untuk referensi. saya cantumkan sumbernya ko.
    makasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: