Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

The 7 Habits of Highly Effective People

Posted by Mahmuddin pada Agustus 28, 2009

Karakter kita pada dasarnya adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kita. “Taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib,” begitu bunyi pepatah. Kebiasaan adalah faktor yang kuat dalam hidup kita. Karena konsisten, dan sering merupakan pola yang tak disadari, maka kebiasaan secara terus menerus, setiap hari, mengekspresikan karakter kita dan menghasilkan efektivitas kita atau ketidakefektivan kita.

Kebiasaan didefiniskan sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita, kita harus mempunyai ketiga hal tersebut.

Tujuh kebiasaan memberikan pendekatan yang meningkat, berurutan, dan sangat terpadu bagi perkembangan efektivitas pribadi dan antarpribadi. Kebiasaan-kebiasaan ini mengingkatkan secara progresif pada kontinum kematangan dari ketergantungan (paradigma kamu) menuju kemandirian (paradigma saya) hingga kesalingtergantungan (paradigma kita). Tujuh kebiasaan merupakan kebiasaan efektivitas. Karena didasarkan atas prinsip, ketujuh kebiasaan ini memberi hasil jangka panjang yang menguntungkan secara maksimum. Ketujuh kebiasaan itu menjadi dasar dari karakter seseorang, menciptakan pusat dari peta yang benar yang memberi kekuatan dari mana seorang individu dapat memecahkan masalah, memaksimumkan peluang, terus menerus belajar, dan memadukan prinsip-prinsip lain dalam spiral pertumbuhan meningkat secara efektif. Efektivitas terletak dalam keseimbangan produksi dan kemampuan produksi (keseimbangan P/KP). Adapun tujuh kebiasaan tersebut, sebagai berikut:

Kebiasaan 1. Jadilah Proaktif (kebiasaan proaktivitas)

Sebagai manusia, kita  bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Perilaku kita adalah fungsi dari keputusan kita, bukan kondisi kita. Kita dapat menomorduakan perasaan sesudah nilai. Kita mempunyai inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi. Dibutuhkan inisiatif untuk menciptakan keseimbangan P/KP efektivitas dalam hidup dan dibutuhkan inisiatif untuk mengembangkan tujuh kebiasaan tersebut. Bahasa kita merupakan indikator yang sangat riil mengenai tingkatan kita memandang diri kita sebagai orang yang proaktif dan bukan reaktif.

Kebiasaan 2. Merujuk pada tujuan akhir

Sebagian besar aplikasi dasar dari merujuk pada tujuan akhir adalah memulai hari ini dengan bayangan, gambaran, atau paradigma akhir kehidupan anda sebagai kerangka acuan atau criteria yang menjadi dasar untuk menguji segala sesuatu. Merujuk pada tujuan akhir didasarkan pada prinsip bahwa segalanya diciptakan dua kali. Ada ciptaan mental atau pertama, dan ada ciptaan fisik atau kedua. Hal dicontohkan pada pembangunan sebuah rumah yang diciptakan secara rinci terlebih dahulu sebelum menanam pasak pertama di tempatnya. Cara paling efektif untuk merujuk pada tujuan akhir adalah dengan mengembangkan pernyataan misi pribadi atau filosofi atau syahadat.

Kebiasaan 3. Mendahulukan yang utama

Pada kebiasaan ini banyak berkenaan dengan manajemen waktu, dan cara berpikir terbaik dalam bidang manajemen waktu dapat ditangkap pada satu kalimat: organisir dan laksanakan menurut prioritas. Fokus penting dalam manajemen generasi keempat menjabarkan manajemen waktu dalam matriks empat kuadran, yakni kuadran I Penting dan mendesak, kuadran II penting dan tidak mendesak, kuadran III tidak penting dan mendesak, kuadran IV tidak penting dan tidak mendesak.

Kebiasaan 4. Berpikir menang/menang

Paradigma menang-menang merupakan filosofi total interaksi manusia. Paradigma alternatifnya adalah menang/kalah, kalah/menang, kalah/kalah, menang, dan menang/menang atau tidak sama sekali. Menang-menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan timbal balik, sehingga semua pihak merasa senang dengan keputusan. Menang/menang melihat kehidupan sebagai arena kooperatif, bukan kompetitif. Bahwasanya keberhasilan satu orang tidak dicapai dengan mengorbankan atau menyingkirkan keberhasilan orang lain.

Kebiasaan 5. Berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti

Kebiasaan ini berkenaan dengan prinsip komunikasi empatik. komunikasi secara empatik masuk ke dalam kerangka acuan orang lain kemudian memandang keluar melewati kerangka acuan itu, melihat dunai dengan cara mereka melihat dunia maka anda mengerti paradigma mereka dan anda mengerti bagaimana perasaan mereka. Ketika sesuatu berada dalam kendali, kita akan mendapatkan informasi akurat untuk dikerjakan, tiba pada persoalan inti lebih cepat, menambah bank rekening emosi, dan memberikan udara psikologis yang mereka butuhkan supaya anda dapat bekerja sama secara efektif.

Kebiasaan 6. Wujudkan sinergi

Kebiasaan ini menggunakan prinsip kerja sama yang kreatif. Latihan semua kebiasaan lain menyiapkan untuk kebiasaan sinergi. Sinergi berfungsi sebagai katalisator, menyatukan dan melepaskan kekuatan terbesar dalam diri manusia. Komunikasi sinergistik akan membuka pikiran, hati, dan ekspresi kepada kemungkinan baru, alternative baru, pilihan kita. Komunikasi sinergi terbentuk atas dasar kerja sama tinggi dan kepercayaan tinggi. Posisi sinergitstik dari kepercayaan yang tinggi dapat menghasilkan solusi yang lebih baik dengan proses yang kreatif. Dan ketika sinergi tidak dapat dicapai, maka semangat usaha yang tulus biasanya akan menghasilkan kompromi yang lebih efektif.

Kebiasaan 7. Asahlah gergaji

Kebiasaan ini menggunakan prinsip pembaruan diri yang seimbang, karena bagaimanapun aset terbesar yang kita punya adalah diri kita.  Kebiasaan ini memperbarui keempat dimensi alamiah manusia yaitu fisik, spiritual, mental, dan sosial/emosional. Dimensi fisik meliputi pemeliharaan fisik secara efektif dengan nutrisi makan yang tepat, istirahat dan relaksasi yang memadai, dan berolahraga secara teratur. Dimensi spiritual adalah inti diri, pusat diri, dan komintmen diri pada sistem nilai yang diyakini, memanfaatkan sumber yang mengilhami dan mengangkat semangat dan mengikat kita pada kebenaran tanpa batas waktu, dan dapat dilakukan melalui ibadah, sholat atau meditasi. Dimensi mental dapat dilatih dengan pendidikan berkesinambungan, pengasahan dan perluasan pikiran yang terus menerus untuk melatih pikiran agar memisahkan diri dan menguji programnya sendiri. Dimensi sosial/emosional dapat dilatih melalui interaksi dengan orang lain sehari-hari. Pembaruan keempat dimensi tersebut harus dilakukan dengan cara yang bijaksana dan seimbang agar hasilnya efektif dan maksimum, mengabaikan salah satunya dapat menimbulkan dampak negative pada yang lainnya.

Nilai-nilai Pembelajaran:

  1. Menawarkan kita sebuah peluang, bukan sebuah pedoman, cara melakukan sesuatu. Peluang tersebut adalah untuk menjajaki diri sendiri dan dampak yang kita timbulkan pada orang lain dan untuk melakukannya dengan memanfaatkan wawasan yang mendalam.
  2. Memberikan sebuah filosofi hidup yang memberi kekuatan yang juga merupakan jaminan terbaik untuk berhasil dalam bisnis dan pekerjaan.
  3. Segala sesuatu dapat dimungkinkan (possibility), kita dan hanya kita yang dapat membuka pintu terhadap perubahan di dalam diri kita.
  4. Mengilhami seseorang untuk memadukan tanggung jawab yang berbeda-beda di dalam kehidupannya  baik secara pribadi, keluarga, dan propesional.
  5. Mengungkapkan bagaimana tindakan kita berasal dari siapa diri kita, menunjukkan bagaimana kita bisa mengakhiri perilaku yang merugikan diri sendiri di rumah dan di tempat kerja dengan menggunakan tujuh kebiasaan efektif.

Buku ditulis oleh Stephen R. Covey, diterbitkan oleh Penerbit Binarupa Aksara, 1997

4 Tanggapan to “The 7 Habits of Highly Effective People”

  1. dewi said

    menjadikan sikap2 itu sebagai kebiasaan dan kontinyu, itu yg agak susah,hwehehe….🙂

  2. posting yang bagus, salam kenal

  3. Sy sedang belajar jadi manusia,cerdas.Tadi coba buka tentang “hutan”.Nyambung dengan tulisan ini.Kalau solusi pelestarian hutan dimulai dari sini,berarti:individu,teman,neighborhood,negara,dunia.Alangkah……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: