Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Perspektif Aksiologi Penyelenggaraan Pendidikan (4)

Posted by Mahmuddin pada Oktober 19, 2009

Dalam bidang aksiologi, masalah etika yang mempelajari tentang kebaikan ditinjau dari kesusilaan, sangat prinsip dalam pendidikan. Hal ini terjadi karena kebaikan budi pekerti manusia menjadi sasaran utama pendidikan dan karenanya selalu dipertimbangkan dalam perumusan tujuan pendidikan. Menurut Drost (2005), pendidikan bukan hanya soal kemajuan otak ataupun pengetahuan kognitif. Pendidikan juga bertujuan juga mengembangkan pribadi anak didik agar menjadi manusia yang utuh dengan segala nilai dan seginya. Oleh karena itu, pendidikan juga dapat mengajari nilai-nilai kehidupan manusia yang dianggap perlu seperti nilai sosialitas, nilai demokrasi, nilai kesamaan, persaudaraan dan lain sebagainya.

Di samping itu pendidikan sebagai fenomena kehidupan sosial, kultural dan keagamaan tidak dapat lepas dari sistem nilai. Dalam masalah etika dan estetika yang mempelajari tentang hakekat keindahan, juga menjadi sasaran pendidikan, karena keindahan merupakan kebutuhan manusia dan melekat pada setiap makhluk. Di samping itu pendidikan tidak dapat lepas dari sistem nilai keindahan tersebut. Dalam mendidik ada unsur seni, terlihat dalam pengungkapan bahasa, tutur kata dan prilaku yang baik dan indah (Huda, 2008).

Unsur seni mendidik ini dibangun atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia dalam fenomena pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai fakta dan manusia sebagai nilai. Tiap manusia memiliki nilai tertentu sehingga situasi pendidikan memiliki bobot nilai individual, sosial dan bobot moral.

Javons menyatakan bahwa seni mengajarkan kepada kita berbuat, dan sebuah ilmu mengajarkan kepada kita mengetahui. Horne menyatakan bahwa pendidikan adalah berbuat, oleh karena itu pendidikan adalah sebuah seni. Bahwasanya hakekat tubuh yang terdiri atas jasmani, rohani dan akal harus mendapatkan pendidikan yang proporsional. Proses mendidik ketiga unsur tersebut berkenaan dengan metode terbaik yang harus dilakukan dengan cara terbaik. Metode pendidikan tidak hanya didasarkan pada psikologi, tetapi juga sifat fisik, mental dan sosial dari bahan ajar dan anak yang dididik. Oleh karena itu, dibutuhkan jiwa seni dalam mendidik sehingga anak yang dididik dapat terbentuk jiwa seninya dalam menghadapi kehidupan mereka di masa depan (Mudyahardjo, 2008).

Itu sebabnya pendidikan dalam prakteknya adalah fakta empiris yang syarat nilai dan interaksi manusia dalam pendidikan tidak hanya timbal balik dalam arti komunikasi dua arah melainkan harus lebih tinggi mencapai tingkat manusiawi. Untuk mencapai tingkat manusiawi itulah pada intinya pendidikan bergerak menjadi agen pembebasan dari kebodohan untuk mewujudkan nilai peradaban manusiawi (Huda, 2008).

  1. Landasan Filosofi Pendidikan (1)
  2. Perspektif Epistimologi Penyelenggaraan Pendidikan (2)
  3. Perspektif Ontologi Penyelenggaraan Pendidikan (3)
  4. Perspektif Aksiologi Penyelenggaraan Pendidikan (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: