Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Hakekat Pembelajaran Multimodel (2)

Posted by Mahmuddin pada Oktober 21, 2009

Dalam sejarah perkembangan dunia pendidikan, telah dihasilkan berbagai teori pendekatan dalam praktik pembelajaran. Pendekatan dalam praktik pembelajaran disebut sebagai model pembelajaran. Menurut Joyce et. al. (1992), istilah model digunakan karena dua alasan penting, yaitu makna dan fungsinya.

Pertama, istilah model mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. Istilah model pengajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya, problem-based model of instruction (model pengajaran berdasarkan permasalahan), meliputi kelompok-kelompok kecil siswa bekerjasama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati bersama. Dalam model ini, siswa seringkali menggunakan bermacam-macam keterampilan dan prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Jadi, suatu model pengajaran dapat menggunakan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural, seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan, melakukan penelitian, berdiskusi dan memperdebatkan temuan, bekerja secara kolaboratif, menciptakan karya seni, dan melakukan presentasi. Kedua, model pengajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting, apakah yang dibicarakan adalah tentang mengajar di kelas, suatu konsep tertentu, atau kegiatan praktikum.

Model pengajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaksnya (pola urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya. Penggunaan model pengajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran lain. 

Sintaks suatu model pengajaran, menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru dan siswa, urutan kegiatan-kegiatan tersebut, dan tugas-tugas khusus yang perlu dilakukan oleh siswa.

Beberapa teori belajar atau prinsip-prinsip yang memberikan sumbangan terhadap pengembangan model-model pengajaran serta pengembangan strategi-strategi belajar, antara lain:  teori belajar sosial (belajar sosial), teori kognitif (konstruktivis), pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning). Teori belajar sosial (belajar sosial) melandasi pengembangan model pengajaran langsung (Direct Instruction), teori kognitif (konstruktivis).

Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning/CTL)

Pendekatan kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja.

Pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah yang disimulasikan. Pembelajaran kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggungjawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa, dan tenaga kerja. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya. CTL menekankan pada berpikir tingkat lebih tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin, serta pengumpulan, penganalisaan dan pensintesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan.

Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen/pilar utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiri), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.

Model Pengajaran Langsung  (Direct Instruction)

Pengajaran langsung merupakan suatu model pengajaran yang sebenarnya bersifat teacher center.  Dalam menerapkan model pengajaran langsung, guru harus mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa secara bertahap. Model ini memfokuskan pada suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar  dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Karena dalam pembelajaran peran guru sangat dominan, maka guru dituntut agar dapat menjadi model yang menarik bagi siswa.

Teori belajar yang paling banyak melandasi model pengajaran langsung ini adalah teori belajar sosial Bandura. Menurut Bandura dalam Santrock (2007), sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Belajar  akan  sangat  menghabiskan   waktu   dan   tenaga,   dan   bahkan berbahaya,   jika  manusia  harus  menggantungkan  diri  sepenuhnya  pada hasil-hasil  kegiatannya  sendiri.  Untungnya, sebagian  besar  tingkah laku manusia  dipelajari  secara  observasi  melalui  pemodelan dari observasi terhadap perilaku orang lain. Seseorang membentuk pengertian bagaimana melakukan tingkah laku baru, dan pada kesempatan berikutnya  informasi yang  telah  dikodekan  tersebut  berfungsi  sebagai  suatu  pemandu  untuk tindakan.  Karena  manusia dapat  belajar  dari contoh (model), setidaknya dalam bentuk yang mendekati, sebelum melakukan kegiatan (tingkah laku) tertentu, mereka terhindar dari melakukan  kesalahan-kesalahan yang tidak Perlu.

Model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal hukum atau rumus tertentu merupakan contoh pengetahuan deklaratif.  Sedangkan, bagaimana cara mengoperasikan alat-alat ukur dalam IPA merupakan contoh pengetahuan prosedural.  Selain itu, model pengajaran langsung juga efektif untuk membantu mengembangkan keterampilan belajar siswa, seperti menggarisbawahi, membuat catatan, dan membuat rangkuman.

Model  Pembelajaran  Kooperatif (Cooperative Learning)

Pembelajaran  kooperatif merupakan suatu model pengajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar konstruktivis sosial yang dikembangkan oleh Vygotsky. Menurut kalim ketiga Vygotsky, menyatakan bahwa kemampuan kognitif berasal dari hubungan sosial dan cultural. Pengetahuan itu dipengaruhi situasi dan bersifat kolaboratif. Artinya, pengetahuan didistribusikan di antara orang dan lingkungan, yang mencakup objek, artifak, alat, buku, dan komunitas di mana orang berada. Fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan dan kerjasama antar individu sebelum fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vygotsky ini adalah dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.    

Model pembelajaran kooperatif berbeda dengan pengajaran langsung. Disamping model pengajaran ini dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.

Selain itu, pembelajaran kooperatif memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor sebaya bagi siswa kelompok bawah, dimana mereka memiliki orientasi dan bahasa yang sama sehingga memudahkan terjadinya komunikasi dua arah.

Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini sangat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat di mana  pekerjaan orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan di mana masyarakat secara budaya sangat beragam. Kurangnya kemampuan berkolaborasi menyebabkan seringnya terjadi pertikaian, kesalahpahaman, kekerasan, dan betapa sering orang menyatakan ketidakpuasan  pada saat diminta untuk bekerja dalam situasi kooperatif.

Pengajaran   Berdasarkan   Masalah   (Problem  Based Instruction)

Problem Based Instruction (PBI) merupakan model pengajaran yang menyajikan pada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Peranan guru dalam PBI adalah mengajukan masalah, memfasilitasi penyelidikan dan dialog siswa, serta mendukung belajar siswa. PBI diorganisasikan di sekitar situasi kehidupan nyata yang menghindari jawaban sederhana dan mengandung pemecahan masalah yang bersaing. Adapun ciri-ciri utama PBI meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, suatu pemusatan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama, serta menghasilkan karya dan peragaan.

Model  pengajaran ini sangat efektif untuk mengajarkan proses-proses berpikir tingkat tinggi, membantu siswa memproses informasi yang telah dimilikinya, dan membantu siswa membangun sendiri pengetahuannya tentang dunia sosial dan fisik di sekelilingnya.

Pengajaran berdasarkan masalah berlandaskan pada psikologi kognitif dan pandangan para konstruktivis mengenai belajar sebagai pendukung teoritisnya. Fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa (perilaku mereka), melainkan kepada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka) pada saat melakukan kegiatan itu. Walaupun peran guru pada kelas PBI kadang melibatkan presentasi dan menjelaskan sesuatu hal kepada siswa, namun yang lebih umum adalah berperan sebagai pembimbing dan fasilisator sehingga siswa belajar untuk berpikir dan memecahkan masalah oleh mereka sendiri. Teori-teori pembelajaran konstruktivis yang menekankan kebutuhan siswa untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun secara pribadi pengetahuan bermakna, merupakan dasar ilmiah untuk PBI. Model pengajaran ini  sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL, yaitu inquiri, konstruktivisme, dan menekankan pada bepikir tingkat tinggi.

PBI tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Model pengajaran ini dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual. Siswa dilatih untuk belajar berperan sebagai orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri.

1. Pengantar Pembelajaran Multimodel (1)

2. Hakekat Pembelajaran Multimodel (2)

3. Implementasi Pembelajaran Multimodel dalam Pembelajaran (3)

4. Manfaat Pembelajaran Multimodel bagi Pencapaian Kompetensi Anak (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: