Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Implementasi Pembelajaran Multimodel dalam Pembelajaran(3)

Posted by Mahmuddin pada Oktober 21, 2009

Pada pembelajaran multimodel, situasi kelas yang tergambar dikelola dengan sangat baik dan kondusif. Proses belajar sangat mengutamakan adanya interaksi dan kerjasama yang baik antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa secara demokratis sehingga proses pembelajaran sangat dinamis. Peran guru sebagai fasilitator belajar sangat vital dalam mencairkan suasana, mengontrol efektivitas tahapan-tahapan pembelajaran serta mengantar siswa melewati transisi dalam berpindah tahapan. Pendelegasian sebagian peran kepada siswa, semakin memberikan suasana kelas yang memiliki atmosfer belajar.

Fase-fase/Tahapan dalam Pelaksanaan Pembelajaran Multimodel

Pada pembelajaran multimodel, tahapan pembelajaran tidak bersifat permanen tetapi sangat ditentukan oleh konten/materi bahan pelajaran dan situasi kelas yang ingin diciptakan oleh guru.  Tahapan dalam proses belajar dengan pembelajaran multimodel sangat memungkinkan terjadinya kombinasi tahapan antar model-model pembelajaran yang telah ada. Prinsip dalam penyusunan tahapan pembelajaran adalah tujuan yang ingin dicapai, pengalaman belajar yang diharapkan, partisipasi siswa dalam belajar, efektivitas dalam mengelola waktu. Namun demikian, salah satu bentuk implementasi pembelajaran multimodel dapat dikemukakan dalam bentuk fase-fase pembelajaran, sebagai berikut:  

Fase I (motivasi dan perumusan tujuan)

Pada tahapan awal ini, guru sebagai fasilitator melakukan ice breaker dengan siswa, kemudian direfleksi untuk memberikan motivasi atau membangkitkan semangat belajar siswa. setelah itu, guru memfasilitasi siswa untuk merumuskan tujuan pembelajaran secara demokratis. Keterlibatan siswa dalam merumuskan tujuan belajar, membangun rasa tanggung jawab dan hubungan emosional siswa dengan aktivitas belajar.

Fase II (Penyajian data dan orientasi masalah)

Pada tahapan kedua ini, guru dapat menyajikan materi inti dari konten yang ingin dipahami, skill yang akan dilatih, sikap yang akan ditunjukkan serta mengarahkan kegiatan yang akan dilakukan. Guru dan siswa dapat saling berinteraksi dalam fase ini untuk selanjutnya, siswa memahami kegiatan yang harus dilakukan dalam tahap belajar berikutnya. Pada tahap ini, juga dapat dilakukan pengelompokan siswa secara berimbang dengan memperhatikan faktor efektivitas kegiatan dan kualitas interaksi.

Fase III (kajian masalah dan penyelesaiannya)

Pada tahapan ini siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang ada bersama baik secara individual maupun kelompok yang telah ditentukan. Siswa dapat mengeksplorasi lingkungan, literature, bereksperimen, berdiskusi dengan nara sumber atau sesama anggota kelompok. Dalam tahap ini, guru dapat melakukan pendekatan kepada siswa secara individual atau kelompok untuk pembimbingan untuk efektivitas dalam pencapaian tujuan. Guru juga dapat memberikan motivasi, penguatan dan penghargaan sebagai bentuk perhatian yang dilakukan secara merata dan tepat guna kepada siswa. Namun demikian, orientasi tetap pada tanggung jawab siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan melalui proses kerja sama yang memberikan peran masing-masing secara proporsional. Teori behavioral untuk pembelajaran menekankan pentingnya pengkondisian sebagai upaya mengaitkan atau mengasosiasi stimuli serta peran konsekuensi perilaku dalam menghasilkan perubahan dalam probabilitas perlaku (Santrock, 2007).

Fase IV (Komunikasi/Penyajian hasil)

Pada tahap ini, guru memfasilitasi siswa mengkomunikasi pemahamannya dan atau menyajikan hasil karyanya untuk dishare kepada anggota kelas/kelompok lain. Pada tahap ini, kelompok lain dapat memberikan tanggapan dan penilaian terhadap materi yang disajikan sehingga terjadi interaksi dalam proses pembelajaran. Intervensi guru dalam hal ini, dapat berperan dalam klarifikasi dan mengarahkan untuk pembentukan kesimpulan. Dengan demikian, pengembangan akan informasi yang didapat akan lebih beraneka ragam. Interaksi yang terjadi dapat memicu kreatifitas dan daya berpikir yang lebih luas, sehingga dapat terbentuk asosiasi pengalaman sebagai stimulus untuk membentuk perilaku yang lebih baik.

Fase V (Refleksi dan Penghargaan/reward)

Pada tahap ini, siswa diarahkan untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap aktivitas yang telah dilakukan dan memikirkan upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan aktivitas sehingga menjadi lebih baik. Siswa dapat melakukan evaluasi terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan guru dan sebaliknya, guru juga dapat memberikan feedback kepada siswa. Setelah itu, guru menyampaikan penghargaan terhadap pencapaian hasil belajar siswa yang ditunjukkan selama proses interaksi serta hasil yang dicapai dari sebuah proses. Penghargaan dapat didukung oleh bukti rekaman aktivitas atau penilaian yang dilakukan oleh guru ataupun oleh siswa sendiri. Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk pujian yang positif, sehingga dapat meningkatkan daya respon anak terhadap stimulus. Pada tahap ini pula, guru dapat memberikan suplemen materi, sebagai pengayaan yang dapat dipelajari siswa secara mandiri atau dengan bimbingan guru secara nonreguler.

Hal yang penting menjadi perhatian bagi guru dalam pembelajaran multimodel ini adalah pemeliharaan motivasi siswa agar tetap fokus dalam proses belajar. Dalam hal ini, guru harus kreatif dalam memulai proses belajar, jeli menciptakan kegiatan sela dalam setiap perpindahan fase atau pada setiap term waktu tertentu, serta cerdas dalam  mengakhiri setiap fase dan menutup proses pelajaran. Menurut Given (2007), dalam sistem pembelajaran emosional, guru dituntut menciptakan iklim kelas yang kondusif bagi keamanan emosional dan hubungan pribadi untuk siswa agar mereka dapat belajar secara efektif. Guru yang memupuk sistem emosional berfungsi sebagai mentor bagi siswa dengan menunjukkan antusiasme yang tulus terhadap anak didik, dengan membantu siswa menemukan hasrat belajar, dengan membimbing mereka mewujudkan target pribadi yang masuk akal, dan mendukung mereka dalam upaya untuk menjadi apapun yang mereka bisa capai. Oleh karena itu, pelajarn harus menarik, menantang, relevan, berkaitan dengan apa sudah diketahui siswa, bisa dicapai, atau berada dalam zona perkembangan proksimal siswa.

1. Pengantar Pembelajaran Multimodel (1)

2. Hakekat Pembelajaran Multimodel (2)

3. Implementasi Pembelajaran Multimodel dalam Pembelajaran (3)

4. Manfaat Pembelajaran Multimodel bagi Pencapaian Kompetensi Anak (4)

2 Tanggapan to “Implementasi Pembelajaran Multimodel dalam Pembelajaran(3)”

  1. sukadi said

    Thanks berat untuk artikel pembelajarannya, sangat bermanfaat untuk saya. Salam dari saya, guru di pelosok Sulawesi Tengah.

  2. abdul majid said

    thanks for this article. it is very useful to completed my report. i hope our god bless us.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: