Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Manfaat Pembelajaran Multimodel bagi Pencapaian Kompetensi Anak (4)

Posted by Mahmuddin pada Oktober 21, 2009

Pembelajaran multimodel pada prinsipnya merupakan pendekatan pembelajaran yang secara komprehensif mempertimbangkan kondisi psikologi perkembangan anak, materi pelajaran sebagai objek dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Secara teoritis, pembelajaran multimodel berupaya mengimplementasikan berbagai teori dan prinsip belajar yang telah ada serta mengakomodasi potensi dan modalitas siswa dalam belajar (gaya belajar). Menurut DePotter dan Hernacki (2002), secara umum ada dua kategori utama dalam belajar, yaitu bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah dan cara kita mengatur dan mengolah informasi tersebut. Gaya belajar tersebut, kemudian dibedakan menjadi modalitas visual, auditorial dan kinestetik.

Berdasarkan tahapan belajar yang dikemukakan dalam tulisan  seri (3), maka partisipasi siswa dalam pembelajaran multimodel dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Siswa turut berpartisipasi dalam merumuskan tujuan pembelajaran, proses ini diharapkan dapat membangun partisipasi siswa selama proses pembelajaran. Dengan keterlibatan dalam perumusan ujuan di awal proses belajar, maka tujuan belajar merupakan milik siswa sehingga mereka akan memiliki rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.
  2. Siswa berpartisipasi dalam mengorganisir kelompok, mengatur peran diri masing-masing dan bekerja sama dalam mencapai target. Hal ini dapat menguatkan kesan bahwa siswalah yang menjadi pemeran utama dalam proses belajar. 
  3. Siswa berpartisipasi sebagai sumber informasi bagi orang lain/kelompok lain. Ketika siswa mengkomunikasikan hasil kerja/pikirannya, memberikan kesan bahwa siswa memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar di kelas sehingga dapat menguatkan rasa percaya diri dan semangat untuk menampilkan karya terbaik. 
  4. Siswa berpartisipasi dalam penilaian. Ketika siswa dilibatkan dalam proses menilai diri mereka  dan menilai orang lain/kelompok lain, memberikan kesan penghargaan yang tinggi dalam menentukan keberhasilan belajar.

Menurut Aunurrahman (2009), Belajar pada dasarnya bercirikan upaya sadar atau disengaja yang dilakukan oleh individu untuk berinteraksi dengan lingkungan yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku sebagai hasilnya. Proses belajar dalam pendekatan multimodel ini sangat mementingkan keterlibatan siswa dalam berinteraksi. Stimulus yang mendapatkan respon menghasilkan interaksi. Kualitas interaksi sangat ditentukan oleh kualitas respon, dan kualitas respon sangat ditentukan oleh kualitas stimulus, sehingga untuk memperbaiki kualitas interaksi belajar maka stimulus yang diciptakan guru harus berkualitas. Dalam hal ini, tercapainya tujuan pembelajaran sangat ditentukan oleh skenario dan peran guru sebagai stimulator dan partisipasi siswa sebagai bentuk respon yang diberikan sehingga terjadi interaksi belajar yang berkualitas.

Menurut Aunurrhaman (2009), belajar merupakan proses internal yang kompleks, yakni melibatkan seluruh mental yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Proses belajar sebagai proses internal siswa tidak dapat diamati akan tetapi dapat dipahami oleh guru. Proses belajar tersebut tampak melalui perilaku siswa mempelajari bahan ajar. Perilaku belajar tersebut merupakan respon siswa terhadp tindakan pembelajaran dari guru. Mengacu keterlibatan ketiga ranah mental dalam belajar, maka kompetensi siswa dalam belajar dapat diukur dalam tiga aspek yaitu pengetahuan, skill atau keterampilan, dan sikap atau nilai-nilai.

Pembelajaran multimodel dapat memberikan manfaat bagi pencapaian kompetensi siswa, sebagai berikut:

  1. Pengetahuan : Keterlibatan siswa dalam mencari dan mengakses sumber informasi atau sumber belajar memungkinkan siswa dapat mengeksplorasi lebih banyak pengetahuan. Interaksi yang dilakukan secara individual dapat meningkatkan efektivitas dalam pendalaman dan penguasaan informasi dan pengetahuan siswa. Oleh Karena, siswa bebas memilih cara yang sesuai dengan style atau modalitas efektif bagi dirinya sendiri. Interaksi yang terjadi dalam kelompok dan klasikal, menuntut terjadinya kematangan bagi penguasaan informasi yang disajikan sehingga interaksi yang berkualitas dapat meningkatkan tingkat penguasaan materi bagi siswa.
  2. Skill atau Keterampilan: Dari keseluruhan proses belajar yang disetting oleh guru dapat menstimulasi siswa melatih keterampilan siswa baik yang bersifat softskill maupun hardskill. Softkill yang dapat dilatih dari proses belajar ini seperti komunikasi, kerjasama, membangun hubungan interpersonal atau social skill, research skill, kreativitas, penyelesaian masalah dan lain sebagainya. Sedangkan hardskill yang dapat dikembangkan sangat ditentukan oleh aktivitas motorik yang dirancang oleh guru.
  3. Sikap atau nilai-nilai: Dalam proses pembelajaran multimodel yang memperhatikan partisipasi siswa dalam proses belajar, pengembangan sikap atau nilai-nilai sangat mendapatkan ruang. Bahwa dengan tingginya partisipasi siswa dalam proses belajar, maka siswa distimulasi untuk menunjukkan perilaku belajar yang dimilikinya. Hal ini memungkinkan guru dapat memberikan merespon perilaku siswa dalam bentuk penguatan positif atau penguatan negative untuk dikembangkan sebagai perilaku baik. Bahkan guru dapat memberikan hukuman bagi siswa sebagai upaya mengurangi perilaku yang tidak diharapkan. Secara detail, pembelajaran multimodel dapat meningkatkan kesadaran diri siswa dalam belajar, rasa percaya diri, tanggung jawab, melatih kepemimpinan dan kolektivitas, kepedulian sosial, serta dapat mengembangkan sikap ilmiah siswa.

Pembelajaran multimodel sarat dengan perilaku belajar. Ketika siswa dapat berpartisipasi secara aktif dan berkesinambungan dalam proses belajar, maka siswa secara perlahan-lahan dapat menunjukkan perilakunya. Perilaku siswa yang dapat diamati guru merupakan potensi yang dapat dieksplorasi untuk dikembangkan menjadi jati diri. Dengan demikian, implementasi pembelajaran multimodel ini dapat memberikan hasil nyata dalam meningkatkan kompetensi siswa.

1. Pengantar Pembelajaran Multimodel (1)

2. Hakekat Pembelajaran Multimodel (2)

3. Implementasi Pembelajaran Multimodel dalam Pembelajaran (3)

4. Manfaat Pembelajaran Multimodel bagi Pencapaian Kompetensi Anak (4)

3 Tanggapan to “Manfaat Pembelajaran Multimodel bagi Pencapaian Kompetensi Anak (4)”

  1. irwan said

    dalam pembelajaran multimodel, model apa saja yang bisa dikolaborasikan????

    • Mahmuddin said

      Terima kasih atas kunjungannya. Kolaborasi bisa terjadi dalam 2 bentuk: – model yang berbeda digunakan pada pertemuan berbeda tp dalam satu kompetensi. – model dikombinasi sehingga melahirkan model baru. kolaborasi model sangat ditentukan karakteristik materi dan tujuan yang pembelajaran yang akan dicapai. Contoh, yang sedang saya kembangkan, kombinasi model perolehan konsep dan model pelatihan inkuiri pada konsep bioteknologi di SMP. Salah seorang teman saya saat ini juga sedang mengembangkan kombinasi model kooperatif dan problem solving pada sistem pencernaan, kombinasi model Direct instruction dan model problem solving.

      selamat mencoba

  2. Anonim said

    pak saya mau tanya.kalau pengertian multimodel itu menurut siapa saja?trmksh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: