Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Pengantar Pembelajaran Multimodel (1)

Posted by Mahmuddin pada Oktober 21, 2009

Kualitas pendidikan merupakan salah satu hal penting yang mesti menjadi perhatian setiap bangsa dalam membangun kesejahteraan. Pendidikan secara filosofis berperan sebagai upaya dalam proses meningkatkan harkat dan martabat manusia. Namun, dalam kenyataannya, kehidupan masyarakat berkembang sangat pesat sedangkan dunia pendidikan ketinggalan dalam menyerap ilmu dan teknologi (Setiawan, 1984).

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang kondusif, agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003, pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan merupakan kunci dalam menguak kemajuan bangsa (Suyanto, 2000). Dalam praktiknya, kualitas pendidikan bagi anak sangat ditentukan oleh kualitas interaksi yang terjadi dalam proses belajar yang diciptakan oleh sekolah salah satu intstrumen penyelenggaraa pendidikan.

Belajar menurut Burton dalam Aunurrhman (2009), diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka dapat beinteraksi dengan lingkungannya. Kemampuan yang dimiliki manusia ada yang merupakan bawaan sejak lahir dan kebanyakan perilaku manusia diperoleh dari proses belajar (Santrock, 2007). Wragg (1994) dalam Aunurrahman (2009), mengemukakan bahwa kegiatan belajar memiliki tiga ciri, yaitu menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja, terjadi interaksi antar individu dengan lingkungannya, dan hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku.

IPA merupakan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri. Dalam hal ini, IPA sebagai mata pelajaran yang memberikan pengalaman pembelajaran cara berpikir dari suatu struktur pengetahuan yang utuh harus menggunakan pendekatan yang sistematis dalam mencari penjelasan tentang fenomena alam. Dengan demikian, pembelajaran IPA memiliki konstribusi penting dalam menyiapkan anak sebagai anggota masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan dan mengkaji solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Dalam kenyataannya, mata pelajaran IPA dipersepsikan oleh sebagian siswa sebagai mata pelajaran yang susah dipahami dan banyak hafalan. Persepsi negative ini, berdampak pada rendahnya partisipasi siswa dalam kelas belajar sehingga pencapaian hasil belajar pun tidak maksimal.  Ketika kondisi ini berada pada situasi di mana penyajian materi pelajaran tidak menarik maka persepsi siswa bisa menjadi kenyataan. Hal ini dapat terakumulasi menjadi sikap yang menghindari atau bahkan membenci pelajaran IPA.

Guru sebagai salah satu elemen dan menjadi ujung tombak dari substansi pendidikan, dituntut untuk memiliki kapabilitas yang prima. Dalam konteks guru sebagai simulator transformasi pengetahuan, guru yang ideal dapat memformulasikan konsep-konsep pembelajaran sedemikian rupa sehingga dapat mencapai sasaran yang hendak dicapai. Sebagai organisator pengajaran di kelas, guru yang ideal harus menyadari bahwa pengajaran itu dapat dikatakan sukses apabila hasilnya tahan lama dan dapat digunakan oleh siswa dalam menjalani kehidupannya, dapat menggunakan apa yang dipelajarinya dengan bebas serta penuh kepercayaan diri di berbagai situasi hidupnya. Dengan demikian, mengajar dapat dikatakan sukses apabila isi pelajaran dapat meaningfull, usefull, dan mengembangkan seluruh aspek pribadi anak.

Dalam kerangka professional, guru harus dapat menguasai dan menerapkan berbagai model pengajaran agar tujuan pembelajaran yang sangat beranekaragam dapat tercapai. Setiap model pengajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda. Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada sistem sosial kelas. Tidak ada model pengajaran yang lebih baik daripada model pengajaran yang lain. Oleh Karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pengajaran. Guru yang kreatif akan mengadaptasi model tersebut agar sesuai dengan situasi pembelajaran yang dihadapi sehingga model yang berbeda dapat digunakan secara bersama yang disebut multimodel.

Tulisan ini akan mengkaji upaya meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran IPA melalui pembelajaran multimodel. Multimodel dalam tulisan ini, dapat diartikan sebagai penggunaan beberapa model secara kolaboratif dalam suatu skenario kegiatan belajar dan pengguanaan model-model pembelajaran secara bergantian pada setiap periode kegiatan belajar. Untuk memelihara keterjagaan pembaca, maka tulisan ini disajikan dalam beberapa 4 seri, yaitu:

1. Pengantar Pembelajaran Multimodel (1)

2. Hakekat Pembelajaran Multimodel (2)

3. Implementasi Pembelajaran Multimodel dalam Pembelajaran (3)

4. Manfaat Pembelajaran Multimodel bagi Pencapaian Kompetensi Anak (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: