Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Membentuk Karakter Kreatif pada Diri Anak melalui Pembelajaran Bersiklus

Posted by Mahmuddin pada Oktober 28, 2009

Perkembangan pendidikan Indonesia berada pada masa transisi. Perubahan dan pembenahan terus dilakukan demi perbaikan, baik yang bersifat sistemik maupun yang infrastruktur. Political will pemerintah ditunjukkan melalui penetapan peraturan menteri pendidikan nasional tahun 2007 tentang standar nasional pendidikan, yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pengelolaan, standar sarana dan prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pembiayaan, dan standar penilaian. Standar nasional pendidikan ini, menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan.

Namun dalam realitasnya, dunia pendidikan masih berada di persimpangan jalan. Pemerintah menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang berkualitas dan pada saat yang bersamaan menetapkan standar kelulusan secara nasional melalui Ujian Nasional. Hal ini diperparah lagi adanya target kelulusan dengan persentase yang tinggi oleh pemerintah kabupaten kepada sekolah. Ujian nasional yang diperuntukkan bagi anak, lalu berubah menjadi ujian bagi guru dan sekolah sehingga terjadilah praktek-praktek kecurangan dalam pelaksanaannya.

Disadari atau tidak, energi kreativitas guru saat ini tersedot banyak untuk menyiapkan anak lulus ujian nasional terutama bagi siswa yang duduk di kelas akhir. Banyak sekolah bahkan melibatkan pihak luar (baca: Bimbingan belajar) untuk melatih anak mengerjakan soal-soal latihan ujian nasional di luar jam sekolah. Kondisi ini, menyebabkan orang tua terbebani dengan biaya sekolah tambahan, anak terbebani dengan jam belajar tambahan pada saat mereka seharusnya bermain. Anak terpaksa harus menanggung beban stress yang tinggi.

Pendidikan harus dikembalikan pada landasan yuridis dan filosofisnya. Di dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Bab II/Pasal 3) menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Pendidikan Sains merupakan mata pelajaran yang bertujuan membudayakan pengalaman berpikir ilmiah, kritis dan mandiri. Dalam pengembangan pembelajarannya, sains sebagai proses dan produk dari suatu struktur ilmu pengetahuan, dapat menjadikan undang-undang sebagai starting point. Sains menggunakan pendekatan empiris yang sistematis dalam mencari penjelasan alami tentang fenomena alam. Dengan demikian, pembelajaran sains menjadi wahana dalam menyiapkan anak sebagai anggota masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan dan mengkaji solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Prinsip pembelajaran sains adalah mengeksplorasi fakta-fakta aktual, di mana anak dapat belajar merespon informasi terbaru dan melakukan eksperimen untuk menguji hipótesis, yang memberikan ruang bagi anak agar dapat mengembangkan kemampuan menganalisa, mengevaluasi dan mencipta. Dengan fakta yang ditemukan, anak dengan segala potensinya dapat dilatih untuk menggagas ide-ide solutif dan kreatif dengan mengonstruksi sebuah fakta baru.

Mengembangkan potensi anak melalui pembelajaran dapat dilakukan dengan melalui pendekatan yang dapat menstimulasi kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan prosedur yang sistematis. Pengalaman menyelesaikan berbagai masalah, dapat diartikan berkembangnya wawasan anak yang berimplikasi pada kreativitas. Oleh karena itu, pembelajaran yang memiliki pola bersiklus dapat membentuk karakter pada diri anak. Tulisan ini akan membahas pola pembelajaran yang diharapkan dapat membentuk karakter kreatif pada diri anak, melalui sebuah konsep pembelajaran yang bersiklus (Learning cycle).

Urgensi Kreativitas bagi Anak

Survey yang dilakukan oleh Kay (2006) tentang expectation from industry, melaporkan bahwa skill yang dibutuhkan sebagai kekuatan untuk menunjang kesuksesan dunia kerja pada lima tahun ke depan adalah critical thingking (78%), IT (77 %), Collaboration (74%), inovation (74%), health and weallness (76%), personal   financial responsibility (72%), Diversity (67%), Entrepreneurial skill (61%), understanding u.s. economic issues in global economy (61%). Data tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan kemampuan berpikir kritis, serta soft skill lainnya bagi anak sebagai bekal hidup. Hasil survey tersebut juga menunjukkan skill-skill dominan yang menjadi basic competence bagi kebutuhan kerja dalam dunia industria di abad ke-21 ini.

Di dalam kurikulum pendidikan nasional, sebuah kompetensi dapat dicapai melalui tiga indikator, yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap. Artinya, bahwa anak belajar dengan subject, supaya menjadi tahu, dapat melakukan dan menjadi perilaku yang tercermin dalam keseharian hidup.

Belajar berarti melakukan proses berpikir. Belajar tidak cukup hanya sekedar tahu, menguasai ilmu dan menghafal semua teori yang dihasilkan orang lain. Dengan demikian, pembelajaran hendaknya melatih anak mengembangkan kemampuan berpikir (thinking skills). Anak harus dilatih untuk berpikir kritis terhadap setiap fakta yang ditemukan. Cermat dalam menemukan masalah dan kreatif dalam menggagas solusi penyelesaiannya.

Struktur kognitif yang menjadi prinsip dalam  educational objectives dibangun melalui enam tingkatan berpikir yang dikembangkan oleh Lorin Anderson (2001) sebagai revisi atas taksonomi Bloom (1950). Keenam tingkatan berpikir yang dimaksud adalah mengingat (remembering), memahami (understanding), mengaplikasikan (applying), menganalisa (analysing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).

Pembelajaran seringkali terlena dalam tiga tingkatan pertama (low order of thinking) sehingga berdampak pada pengerdilan potensi anak, pada hal setiap anak lahir dengan membawa potensi yang luar biasa. Tantangan masa depan menuntut pembelajaran harus lebih mengembangkan tiga tingkatan akhir berpikir yang disebut dengan keterampilan berpikir kreatif dan kritis (high order of thinking.) Menurut Anderson (2001), Mengevaluasi ditempatkan sebagai kategori utama dalam pengembangan berpikir kritis. Seseorang dapat menjadi kritis tanpa harus kreatif, tetapi produk kreatif seringkali membutuhkan pemikiran kritis. Oleh karena itu, Creating diletakkan sebagai tingkatan akhir yang harus dicapai dalam proses belajar dan berpikir anak.

Belajar bukan sekedar menemukan fakta, dan mengkonstruksinya menjadi sebuah pengetahuan. Menurut Pebruanto (2007), concept based curriculum mengisyaratkan ada 3 konsep belajar yaitu, belajar melebihi fakta (learning beyond the facts), belajar bagaimana berpikir (learning how to think), dan belajar bagaimana menemukan dan mengkonstruksi fakta baru (learning how to find and construct new facts). Suatu pengetahuan dianggap benar hanya bila dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai (Suparno, 1997).

Untuk dapat membentuk karakter kreatif pada diri anak, maka pembelajaran perlu melatih menemukan masalah. Di dalam proses penemuan masalah anak dapat melakukan eksplorasi fakta, mengidentifikasi  pola-pola atau hubungan antara situasi yang tidak terkait secara jelas, serta dapat menggunakan pertimbangan yang kreatif, konseptual atau induktif. Selanjutnya anak hendaknya dilatih mencari solusi kreatif dan mewujudkannya dalam sebuah karya produktif. Jadi belajar membuat anak berlatih menjadi produsen.

 Berpikir kreatif

Otak merupakan pengenal luar biasa dan penyimpan pola. Otak lebih mengingat hal-hal yang dapat kita lakukan, bukan yang kita tidak dapat lakukan, dan penggunaan yang biasa, bukan yang tidak biasa. Dengan pola-pola biasa dengan cara biasa dilakukan, dibuat, dioperasikan atau dikenalinya sesuatu, otak membuat hidup kita jadi lebih mudah. Kita dapat menggunakan, membuat dan mengenali banyak hal tanpa harus berpikir. Berpikir kreatif menuntut kita untuk melepaskan diri dari pola biasa atau dominan yang telah disimpan otak.

Untuk dapat membantu anak melepaskan diri dari pola-pola dominan, diperlukan sikap positif berupa pemikiran bebas/berfantasi dan pengambilan resiko. Sebenarnya sikap ini telah dimiliki anak ketika bermain di rumah, tetapi kebebasan ini mengalami penekanan oleh pembelajaran sekolah yang menekankan pada pemikiran dengan jawaban yang benar. Langrehr  (2006) mengemukakan lima aspek sikap yang baik untuk berpikir kreatif dengan menggunakan akronim FIRST (fantasy, incubate, risk take, sensitivity, titillate).

Seorang pemikir kreatif kerap memimpikan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin terjadi atau solusi yang terkadang konyol terhadap suatu masalah. Ia biasanya membiarkan ide dan solusi untuk beberapa waktu dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan karena solusi kreatif kedua dan ketiga biasanya lebih kreatif dari yang pertama. Pemikir kreatif berani mengambil resiko demi mengharapkan sesuatu yang unik dan berguna, sensitif pada desain kreatif baik yang diciptakan manusia atau yang tercipta secara alamiah. Pemikir kreatif senantiasa bergairah dan menikmati kesenangan, di mana pada kondisi ini otak kaya akan gelombang theta dan zat endorfin (molekul bahagia) sehingga tercipta rasa rileks dalam pikiran. Oleh karena itu, sangat penting menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan sistem pembelajaran yang memungkinkan anak untuk berpikir kreatif.

 Model Siklus Belajar (Learning Cycle) yang Melatih Kreativitas

Salah satu tantangan besar yang dihadapi guru saat ini yakni bagaimana membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir (thinking skills). Melangkah dari pengalaman konkret ke berpikir abstrak yang dapat menghasilkan “loncatan intuitif” melalui sebuah desain pembelajaran aktif. Piagetian-based education mengakui pentingnya menyiapkan lingkungan di mana anak dapat melangkah dari pengalaman konkret menuju ke menemukan konsep, dan  mengaplikasikan konsep. Mengetahui sebuah objek atau peristiwa, tidak sesederhana melihatnya dan menggambarkannya. Mengetahui objek berarti berbuat terhadapnya, memodifikasinya, mentransformasi dan memahami proses transformasinya, dan sebagai konsekuensi dari pemahaman terhadap objek adalah mengkontruksinya.

Pembelajaran meliputi tiga hal utama yaitu fakta, konsep dan nilai. Fakta-fakta yang dieksplorasi harus dapat dikonseptualisasi untuk melahirkan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan demikian, ketika anak belajar maka sesungguhnya diharapkan dapat melatih dan mengembangkan skill belajar (soft skill) yang meliputi self management skills, thinking skills, research skills, communication skills, social skills, dan problem solving skills.

Dengan semakin meningkatnya tantangan kehidupan di masa depan, menuntut pengembangan teori dan siklus belajar secara berkesinambungan. Siklus belajar yang dikembangkan dalam sebuah sistem pembelajaran menentukan terbentuknya karakter yang diharapkan pada diri anak. Karakter berpikir yang kreatif dan membebaskan dapat menjadi modal utama bagi anak untuk menjadi manusia mandiri dalam kehidupan masa depan yang kompetitif. Proses pembelajaran yang inovatif, membiasakan anak belajar dan bekerja terpola dan sistematis, baik secara individual maupun kelompok dengan lingkungan yang menyediakan ruang bagi anak untuk berkreasi dan mencipta.

Untuk membentuk karakter kreatif menuju terciptanya kemandirian bagi anak, Pebruanto (2006), mengembangkan siklus belajar yang meliputi lima aspek pengalaman belajar sebagai berikut:

  1. Exploring: merespon informasi baru, mengeksplorasi fakta-fakta dengan petunjuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan dengan orang lain, atau menggali informasi dari guru, ahli/pakar atau sumber-sumber yang lain.
  2. Planning: menyusun rencana kerja, mengidentifikasi alat dan bahan yang diperlukan, menentukan langkah-langkah, desain karya dan rencana lainnya.
  3. Doing/acting: melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, membuat karya dan melaporkan hasilnya, menyelesaikan masalah.
  4. Communicating: mengkomunikasikan/mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, penemuan, atau hasil karyanya, sharing dan diskusi.
  5. Reflecting: mengevaluasi proses dan hasil yang telah dicapai, mencari kelemahan-kekurangan guna meningkatkan efektivitas perencanaan.

Siklus Belajar

Aspek pengalaman belajar di atas merupakan tahapan-tahapan belajar yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan potensi belajar, berpikir dan berkreasi dalam karya. Siklus pembelajaran tersebut menjadi wahana melatih anak membangun kemandirian dan memupuk jiwa entrepreneurial dengan kreativitas dan produktivitas sebagai karakternya. Dalam implementasinya, siklus belajar ini konsisten dengan pendekatan keterampilan proses, inquiri, konstruktivistik, dan sains teknologi masyarakat menggunaka strategi pembelajaran strategi metakognitif.

 Implementasi Siklus Belajar dalam Pengembangan Pembelajaran

Mengimplementasikan siklus belajar dalam pola pembelajaran dapat dilakukan dengan mengintegrasikannya pada pengembangan perencanaan pembelajaran. Dalam hal ini, salah satu tahapan pengembangan rencana pembelajaran yang harus dilakukan adalah menyusun aktivitas belajar berdasarkan siklus belajar. Di samping tahapan-tahapan lainnya, sebagaimana yang dimodelkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

Pengembangan rencana pembelajaran yang mengintegrasikan siklus belajar dapat diurutkan sebagai berikut:

  1. Pemetaan Standar Kompotensi dan Kompotensi Dasar: mengidentifikasi kompetensi dasar yang memungkinkan untuk dipadukan dalam sebuah tema pembelajaran.
  2. Menentukan fokus belajar: mengidentifikasi kata kunci dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, menentukan hubungan kerangka konsep untuk menetapkan fokus belajar.
  3. Menentukan hasil/tujuan belajar dan indikator: dirumuskan berdasarkan hubungan kerangka konsep yang telah ditetapkan, dijabarkan secara spesifik dan terukur.
  4. Membuat siklus belajar:  Menyusun tahapan aktivitas belajar, yang secara inplisit meliputi lima aspek yakni exploring, planning, doing, communicating dan reflecting.
  5. Merencanakan penilaian: menentukan aspek yang dinilai dan cara menilainya, meliputi 3 ranah dalam pencapaian kompetensi, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian dilakukan dengan menggunakan prinsip penilaian otentik (authentic assessment).

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang dilakukan terhadap masalah dalam makalah ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Kreativitas merupakan produk dari berpikir kritis yang merupakan skill yang dibutuhkan sebagai kekuatan untuk menunjang kesuksesan dunia kerja.
  2. Model siklus belajar yang melatih kreativitas terdiri atas 5 tahapan yaitu Exploring, Planning, Acting/Doing, Communicating dan Reflecting.
  3. Implementasi siklus belajar dalam pembelajaran terintegrasi dalam rencana pelakasanaan pembelajaran yang dikembangkan dengan berorientasi pada pengembangan kemampuan kreasi atau daya cipta anak.

4 Tanggapan to “Membentuk Karakter Kreatif pada Diri Anak melalui Pembelajaran Bersiklus”

  1. c syarif hidayat said

    seorang guru di tuntut untuk menguasai berbagai cara dalam KBM,dengan masukan informasi pengetahuan yang sesuai dengan keadaan jaman ……….trimaskasih atas berbagai ilmu pengetahuannya

  2. y bener y mana ya “kemandirian belajar praktik mempengaruhi kreatifitas siswa amk” ato “kreatifitas mempengaruhi kemandirian praktik siswa smk”…? secara teoritis…?

  3. CHAIRIL FAIF PASANI said

    Bagus. Saya lagi mencari terus bagaimana membentuk karakter kreatif melalui pembelajaran terutama matematika di sekolah. Trim’s.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: