Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Pengaruh Lingkungan terhadap Efektivitas Pembelajaran

Posted by Mahmuddin pada Februari 18, 2010

Kepribadian merupakan paduan dari faktor genetika dan faktor lingkungan tempat seseorang dibesarkan. Namun, Judith Harris (1998) dalam Given (2007) mengemukakan bahwa pengaruh orang tua lebih kecil ketimbang pengaruh teman sebaya atau saudara kandung. Dapat dikatakan bahwa pengaruh genetika memiliki peran yang kurang dominan dari pada faktor lingkungan. Dengan demikian, penting bagi orang tua dan guru memperhatikan lingkungan yang kondusif tempat interaksi anak  dalam melewati masa-masa perkembangannya.

Dalam hal ini, jika reaksi sosial anak sebagian besar dibangun sebagai respon terhadap interaksi teman sebaya, maka budaya sekolah berpengaruh sangat kuat terhadap perkembangan anak-anak dalam menginterpretasikan dan merespon situasi dan kondisi. Menurut Jackendoff (1994) dalam Given (2007), anak-anak tidak diajari pola budaya dan pemahaman sosial melalui penyampaian aturan. Namun mereka menyerap, membuat interpretasi, dan bertindak berdasarkan konsepsi yag mereka buat sendiri berdasarkan masukan yang diterima dari seluruh budaya.

Menurut Given (2007), setengah dari keluarga Amerika Serikat, tidak lagi menganggap kewajiban bagi mereka untuk mewarsikan nilai-nilai dari generasi ke generasi. Akan tetapi, tanggung jawab tersebut dilakukan oleh lembaga pendidikan (sekolah). Jika sekolah gagal memikul tanggug jawab ini, mereka percaya bahwa sebagaimana kita tidak memiliki orang dewasa yang lemah dalam menulis dan sains, kita akan mendapati orang dewasa yang tidak memiliki watak dan nilai-nilai yang  dibutuhkan untuk menjadi anggota komunitas yang baik, atau pegawai yang baik, atau serdadu yang baik.

Budaya sekolah dan ruang kelas yang memberi siswa peluang untuk menjadi bagian dari kelompok yang bermakna, memperoleh penghargaan dari teman sebaya, dan berpartisipasi dalam altruisme timbal balik, perlu perencanaan dan pengelolaan cermat. Perencanaan cermat budaya kelas sangat penting karena siswa dalam setiap mata pelajaran akan mengembangkan kode perilaku tidak tertulis yang bisa mendukung atau menggoyahkan kurikulum. Oleh karena itu, dibutuhkan guru cakap yang bekerja sama dengan siswa untuk menciptakan kode perilaku sosial dan akademis, sehingga setiap siswa dapat meraih potensi tertinggi. Kode ini harus menghormati kebutuhan dan membentuk watak demi kebaikan siswa sendiri dan demi kebaikan kelompok.

Ketika merencanakan interaksi, perbedaan dan gaya individu harus dipertimbangkan. Sebagian siswa belajar paling baik jika bekerja dengan siswa lain atau dalam kelompok kecil, yang lain belajar paling baik sendiri untuk memproses informasi sesuai dengan laju dan cara mereka sendiri, dan ada pula yang merasa lebih aman dan terfokus jika bekerja dengan guru, orang dewasa lain, atau figur berwenang lainnya.

Interaksi dengan teman sebaya dan kelompok kerja sama bisa menimbulkan frustasi dan kecemasan bagi siswa yang suka bekerja sendirian. Sebaliknya, kelompok kecil terbatas, yang memberi peluang berinteraksi dengan teman sebaya bisa membantu siswa menjajaki banyak cara untuk menyelesaikan tugas tanpa merasa panik. Interaksi dengan teman sebaya dan kelompok kerja sama bisa menimbulkan frustasi dan kecemasan bagi siswa yang suka bekerja sendirian. Sebaliknya, kelompok kecil terbatas yang memberi peluang berinteraksi dengan teman bisa membantu siswa menjajaki banyak cara untuk menyelesaikan tugas tanpa merasa panik (Given, 2007).

Lickona (1993) dalam Given (2007) mengemukakan bahwa jika kita ingin mengubah perubahan permanen pada watak siswa, maka sekolah perlu menerapkan pendekatan komprehensif, yang melibatkan pikiran, perasaan, dan perilaku siswa. Sekolah sulit meraih kemajuan jika terus menyalahkan masyarakat untuk semua hal. Budaya di sekolah dan di ruang kelas harus dibangun sebaik mungkin demi terbentuknya komunitas pelajar yang dihargai, memiliki peluang untuk memimpin, dan dihormati karena menjadi diri sendiri. Menjadi mentor bagi teman sebaya bisa memberikan peluang kepada siswa untuk melatih etika dan kepemimpinan serta rasa percaya diri.

Menurut DePorter (2001), guru tidak dapat mengajar lebih banyak dengan usaha lebih sedikit. Akan tetapi, guru dapat menyampaikan isi lebih banyak dan siswa mengerti lebih banyak. Hal itu dapat dicapai dengan mengubah lingkungan. Belajar terjadi baik secara sadar maupun tidak sadar dalam waktu bersamaan. Otak senantiasa dibanjiri stimulus, dan otak memilih fokus tertentu saat demi saat. Misalnya, ketika sebuah gambar ditampilkan baik dalam proses belajar maupun berupa pajangan kelas, maka di samping proses hal itu merangsang modalitas belajar visual, juga dapat menimbulkan asosiasi dalam kesadaran melalui jalur saraf. Sehingga lingkungan sekeliling dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan siswa secara tidak sadar menyerap informasi melalui kemitraan otak-mata.

Poster-poster ikon atau pajangan di kelas, menyajikan konsep-konsep tersamar dan akan membantu penciptaan, penyimpanan, dan pencarian informasi secara visual. Untuk efektivitasnya, pemasangan pajangan harus dikelola pada setiap sisi  kelas dengan mengatur tata letak antar pajangan untuk materi yang sudah lewat, sedang dipelajari, akan dipelajari ataupun poster afirmasi sebagai dialog internal. Penggunaan kombinasi warna-warni dalam hal ini untuk memperkuat pengajaran dan belajar siswa. Dengan demikian, dapat memicu minat siswa untuk belajar (DePorter, 2001).

Penggunaan alat bantu seperti media atau alat peraga, tidak hanya membantu bagi pembelajaran visual, tetapi dapat membantu bagi modalitas pembelajar kinestetik. Siswa yang kinestetik dapat memegang alat bantu, dan mendapatkan sensasi yang lebih baik dari ide yang disampaikan guru. Pengaturan bangku juga memainkan peran yang penting dalam pembelajaran, susunan bangku dapat mendukung tujuan belajar bagi pelajaran apapun yang diberikan. Susunan bangku dapat memudahkan interaksi sosial, baik antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar lainnya. Dengan demikian, susunan bangku dapat membantu siswa agar tetap fokus pada aktivitas belajar (DePorter, 2001).

Menghadirkan tumbuhan di dalam kelas dapat memberikan suasana tersendiri bagi siswa. Tumbuhan selain sebagai sumber oksigen, juga dapat dijadikan objek pandang yang sangat menarik. Warna daun yang hijau, apalagi berhiaskan dengan bunga yang berwarna-warni, dapat memberikan kesejukan pikiran. Tumbuhan memberikan efek visual yang indah, sehingga dapat menambah estetika kelas.

Untuk semakin memperbaiki suasana hati, penggunaan musik di kelas dapat berpengaruh pada guru dan siswa dalam pembelajaran. Menurut DePorter (2001), penggunaan musik dapat menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar yang positif. Musik membantu siswa bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak. Secara sadar maupun tidak sadar, music dapat merangsang, meremajakan, dan memperkuat belajar. Irama, ketukan, dan keharmonisan musik mempengaruhi fisiologi manusia terutama gelombang otak dan detak jantung, disamping dapat membangkitkan perasaan dan ingatan.

11 Tanggapan to “Pengaruh Lingkungan terhadap Efektivitas Pembelajaran”

  1. Ummu Azzahra Fadhlulhakim said

    Bagus sekali artikelnya, Ma’af, ijin share ya… sebagai masukan untuk mengajar, syukron

  2. mariamah said

    wah, ini yang saya cari untuk menambah referensi dalam tugas kuliah saya, thanks ya…..

  3. yoga said

    Terimakasih buat artikelnya,
    ini menambah referensi artikel yang akan saya buat tentang efektivitas.

  4. rian bagus p. said

    menambah referensi untuk tugas kul ku ini…makasih ya

  5. Anonim said

    thanks ych…..

  6. harun said

    terima kasih, semoga bermanfaat !

  7. Bahrudin AL-BONJAVA said

    yang berbentuk proposal penelitian ada ga yach????

  8. Anonim said

    tinjauan pustakax nehh make buku apa yahh,,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: