Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Petaka Toksik P. cocovenenans di Barru

Posted by Mahmuddin pada September 2, 2010

Di saat sedang menikmati sahur hari ke-23 Ramadhan (1 September 2010), saya sambil membaca lintasan Newsticker MetroTV. Di ujung berita yang sedang berjalan itu terbaca sepintas, ”8 orang tewas saat berbuka puasa di Kab. Barru”. Kaget dan terperanjat, saya seolah tak percaya itu terjadi di Barru. Untuk memastikan berita itu, saya sampai menunggu dan memelototi lintasan Newsticker MetroTV sebanyak tiga kali.

Sejenak saya berpikir, bagaimana cara untuk memastikan berita ini. Kuingat satu persatu teman yang berasal dari Barru, akhirnya kutemukan nama salah seorang teman kuliah di PPs UNM yang kebetulan nomornya telah kusimpan di kontak ponsel saya. Kucoba tanya konfirmasi berita itu via SMS: ”Asniar, tidak terlibatji ki dalam buka puasa yang tewaskan 8 orang di Barru?”. Beberapa menit kemudian, SMS jawaban pun datang: ”Alhamdulillah, tidk ka informasi yang kudengar bukan acara buka puasa karena kejadiannya di daerah terpencil dan jam 5 sore. Wallahuwallam”. Jawaban itu, memastikan pada diri saya bahwa kejadian itu benar adanya.

Rasa penasaran yang tertinggal dalam pikiran saya selanjutnya, makanan apakah gerangan yang menyebabkannya. Saya putuskan untuk tunggu berita di TV. Sepulang kantor, saya sengaja menunggu berita sore di trans7. Liputan trans7, akhirnya memberi info kepastian kepada saya bahwa kasus buka puasa naas itu disebabkan oleh menu “Kue Dadar“. Sejenak terlintas dalam pikiran saya perawakan kue yang tampak berwarna hijau, beraroma daun pandan,  berbentuk menggulung dan di dalamnya terdapat kelapa yang diberi campuran gula merah. Selera saya sejak kecil tidak terlalu tertarik dengan kue ini, karena lidah dan kerongkongan saya tidak terlalu tahan dengan rasa manis gula merah.

Sebagai orang yang bergelut dalam ilmu biologi yang pernah mengkaji dunia mikroorganisme, saya mencoba menganalisis dalam pikiran kasus kue dadar ini dan menelusuri secara ilmiah efek yang dapat menyebabkan kematian.

Resep Kue Dadar (dari http://inforesep.com/resep-dasar-dadar-gulung.html )

  • Resep Bahan Kulit Dadar Gulung : 150 gram tepung terigu protein sedang, 1/4 sendok teh garam, 350 ml santan dari 1/2 butir kelapa, 50 ml air daun suji (dari 30 lembar daun suji dan 2 lembar daun pandan), 1 butir telur, dikocok lepas.
  • Resep Bahan Isi Dadar Gulung : 200 gram kelapa parut kasar, 100 gram gula merah, disisir halus, 1/4 sendok teh garam, 2 lembar daun pandan, disimpulkan, 150 ml air.
  • Cara Membuat Dadar Gulung : Isi : masak kelapa parut kasar, gula merah, garam, daun pandan, dan air sambil diaduk sampai meresap dan kering. Sisihkan. Kulit : aduk rata tepung terigu dan garam. Tambahkan campuran santan, air daun suji, dan telur. Aduk rata. Panaskan wajan datar. Tuang adonan kulit. Buat dadar tipis-tipis sampai adonan habis. Ambil selembar dadar. Beri isi. Lipat sisi kanan dan kirinya. Gulung.

Analisa Kemungkinan Sumber Masalah

Berdasarkan resep pembuatan kue dadar, ada 2 aspek yang memungkinkan menjadi sumber penyebab masalah dalam kasus ini yaitu bahan dan cara pembuatan.

  1. Bahan, dari item bahan yang digunakan patut dicurigai dalam kasus ini adalah kelapa, air, telur. Kelapa parut dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri Pseudomonas cocovenenans yang dapat menghasilkan toksik yang mematikan. Air dapat saja terkontaminasi oleh bakteri E. coli yang mematikan sebagaimana kasus yang pernah terjadi di pulau Jawa dalam beberapa tahun yang lalu. Sedangkan telur, juga dapat terkontaminasi oleh bakteri patogen yang dapat menghasilkan racun pada tubuh.
  2. Cara pembuatan, selama proses pembuatan kue ini terjadi kontaminasi oleh bakteri patogen yang menghasilkan racun. Bakteri tersebut dapat berasal dari udara, peralatan, atau tubuh manusia (tangan).

Dari semua asumsi di atas, saya mencoba mengkaji argumentasi kemungkinan penyebab dari kelapa parut. Banyak kasus kematian serentak yang terjadi sebelumnya disebabkan oleh makanan yang berbahan dasar kelapa parut. Kasus yang paling banyak adalah kasus tempe bongkrek, yang bahan dasarnya menggunakan campuran bungkil kelapa (ampas kelapa parut). Sedangkan kasus kontaminasi E. coli rasanya untuk ukuran daerah terpencil kecil kemungkinannya.

Meski kue dadar tidak menggunakan ampas, namun subtansi yang terdapat pada kelapa parut murni masih sama dengan ampasnya. Oleh karena itu, kelapa parut yang tertinggal beberapa lama tidak digunakan dapat terkontaminas bakteri P. cocovenenans.

Bagaimana dahsyatnya efek toksis yang dihasilkan bakteri ini?

Bakteri P.  cocovenenans merupakan bakteri yang menarik untuk diteliti baik dari sudut biokimia, fisiologi, farmakologi dan medis, terutama ilmu gizi. Bakteri ini sering digelari bakteri bongkrek karena populernya menghasilkan senyawa – senyawa beracun di dalam medium tempe bongkrek dan khususnya pada ampas kelapa.

P. cocovenenans dapat mencemari jika proses pembuatan kue atau penyimpanan kelapa parut yang dilakukan dengan kurang memperhatikan kebersihan. Bakteri ini selanjutnya dapat menghasilkan senyawa beracun. Ada dua zat racun yang dihasilkan P. cocovenenans yaitu asam bongkrek yang tidak berwarna ( LD 50 1,4 mg/kg bobot badan, ip pada tikus ), dan toksoflavin yang berwarna kuning (LD 50 = 1,7 mg/kg bobot badan, ip pada tikus). Bagi mereka yang ‘mengonsumsi’ toksin pada dosis tinggi dapat menyebabkan kematian dalam waktu kurang dari empat hari setelah mengonsumsi racun tersebut. Pertumbuhan P. cocovenenans sebenarnya dapat dihambat, yaitu dengan menurunkan pH sampai 5,5. Bakteri ini menyukai medium yang banyak mengandung asam lemak.

Keracunan oleh bakteri ini dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ. Bakteri ini menjadi racun yang mematikan bila bersentuhan dengan asam lemak di dalam tubuh. Bakteri ini menyerang mitokondria, yaitu sumber energi di tingkat sel. Racun itu berdampak pada mekanisme ATP (adenosine triphosphate)-ADP (adenosine diphosphate) translocase, yakni mekanisme perubahan ATP menjadi ADP dan sebaliknya selama proses pernafasan di sel.

ATP adalah nukleotida yang multifungsi yang mengantar energi kimia di dalam sel untuk keperluan metabolisme. ATP menghasilkan energi selama proses respirasi di dalam sel dan dikonsumsi oleh banyak enzim untuk keperluan biosintesa sampai pembelahan diri. Untuk menghasilkan energi bagi seluruh sel di dalam tubuh manusia dalam melaksanakan kegiatannya, maka ATP perlu keluar dari mitokondria. Racun bongkrek membuat ATP gagal keluar dari mitokondria, yang pada akhirnya membuat sel-sel tubuh manusia kehilangan sumber tenaganya.

Gejala klinis pada kasus keracunan bakteri ini adalah mual (87,88%), muntah (81,82%), pusing (48,48%) kemudian dapat mengakibatkan kematian. Walaupun demikian, penyakit ini bukanlah wabah dan tidak menular antar manusia. P. cocovenenans merupakan bakteri gram negatif oleh karena itu bakteri ini resisten terhadap penicillin dan mayoritas beta-lactam antibiotik tetapi sebagian sensitive terhadap piperacillin, imipenem, tobramycin atau ciprofloxacin.

Semoga kasus sebagaimana yang menimpa saudara bugis di Barru tidak terulang kembali. Bagi mereka yang telah meninggal dalam kasus ini, semoga diberi tempat bersama orang-orang yang beriman di sisi Allah SWT. Amiin….!!

3 Tanggapan to “Petaka Toksik P. cocovenenans di Barru”

  1. wah mantap sekali ulasannya…
    terima kasih..
    ternyata kelapa parut bisa jadi sangat berbahaya ya..? sama sekali tidak boleh dianggap remeh..

  2. menarik ulasannya dan menambah wawasan. yang perlu juga pemahaman bagi masyarakat akan mengolah makanan yang sehat. Jangan lupa cuci tangan sangat sebelum makan, kalo tidak bisa dengan cairan antiseptik, dengan sabun juga boleh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: