Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Paradoksial Kewirausahaan

Posted by Mahmuddin pada Desember 15, 2010

Fakta-fakta di atas menunjukkan proses kewirausahaan memiliki sifat dasar dinamis, mengalir, tidak jelas, dan tidak teratur. Sifat kontradiksi inilah yang kemudian menjadi keistimewaan dari proses kewirausahaan. Oleh karena itu, beberapa pernyataan paradoksial muncul berkenaan dengan proses kewirausahaan. Timmons (2008:34) mengemukakan beberapa kalimat paradoks sebagai berikut:

  1. Untuk mendapatkan uang, Anda harus terlebih dahulu kehilangan uang. Suatu perusahaan baru yang didukung oleh perusahaan penyokong ventura biasanya merugi sampai $10-$25 juta sebelum laba perusahaan stabil dan go public setelah 5-7 tahun.
  2. Kreativitas dan daya inovasi harus disertai tekad dan disiplin yang kuat.

Setiap tahun ada ribuan hak paten untuk suatu produk dan teknologi baru disia-siakan di laboratorium universitas atau kantor pemerintah karena tidak ada yang memanfaatkannya.

  1. Berwirausaha menuntut kemampuan untuk bertindak, namun juga kesabaran dan kesetiaan. Ketika perusahaan lain memperluas bisnisnya, seorang wirausahaan hanya duduk berdiam diri. Hal ini membuat marah teman-temannya. Ternyata dengan berdiam diri wirausahaan ini bisa menghemat $50-$100 juta/tahun. Dia melakukan hal ini karena pernah membaca kasus Jiffy Lube dari buku New Venture Creation ketika menjadi siswa di program Young President Organization di Harvard Business School pada tahun 1991.
  2. Untuk meningkatkan nilai perusahaan jangka panjang, Anda harus mengorbankan keuntungan jangka pendek. Untuk mendapatkan nilai perusahaan yang tinggi, diperlukan investasi yang besar dan terus menerus ke orang, produk, pelayanan, dan sistem pendukung produk yang baru, serta mengorbankan keuntungan sesaat.

Menurut Timmons (2008:35), kita seringkali menginginkan pola kerja yang rapi, bersih, mengikuti alur, konsisten, dan dapat diperhitungkan, namun kewirausahaan tidak demikian. Dalam dunia kewirausahaan, justru nila tambah  didapat karena adanya benturan-benturan dalam paradoks itu. Paradoks-paradoks di atas menunjukkan bahwa kehidupan pada dunia ini bersifat kontradiktif dan tidak beraturan. Supaya bisa tetap bertahan hidup, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan ketidakjelasan, ketidakteraturan dan ketidakpastian, dan kemampuan manjerial yang bisa menghasilkan kepastian. Oleh karena itu, menghadapi ketidakpastian masa depan, perlu adanya kesabaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: