Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Asal-usul Kelompok Hewan

Posted by Mahmuddin pada Agustus 27, 2012

Dalam awal pengelompokan makhluk hidup, semua hewan baik yang uniseluler maupun yang multiselular, dikelompokan dalam kerajaan hewan atau Regnum Animalia. Kemudian, Regnum Animalia ini dibagi-bagi lagi menjadi sekitar 30 kelompok besar hewan, yang dibagi berdasarkan “bodyplan /bauplane“. Kelompok besar ini disebut “phylum” (jamak: phyla).

Hubungan kekerabatan/filogeni hewan. (A) Diagram pohon kekerabatan berdasarkan morfologi dan embriologi (pola pandang “klasik”); (B) Diagram kekerabatan berdasarkan penanda molekuler (pola pandang “modern).

Pengelompokan ke dalam phyla ini telah mengalami banyak perubahan seiring dengan perjalanan waktu. Pada biologi klasik, kita mengenal pengelompokan hewan berdasarkan rongga tubuh yang disebut “coelom”. Phyla hewan yang jumlahnya lebih dari 30 dikelompokan menjadi tiga kelompok besar, yaitu Acoelomata (”tidak berongga”), Pseudocoelomata (”berongga semu”), dan Coelomata (”berongga). Anggapan para ilmuwan dahulu, evolusi mahluk hidup ini secara garis besar bisa dilihat dari terbentuknya coelom saat perkembangan embrio: yang tak berongga itu kuno, lalu terjadi sedikit perubahan dan timbul mahluk berongga, dan terakhir barulah timbul hewan berongga tubuh sejati. Anggapan ini sesuai dengan pandangan para ahli jaman dahulu yang cenderung memasukan filsafat “supernatural/keagamaan” ke dalam ilmu pengetahuan alam, yaitu pola pikir “scala naturae” (tangga alam). Dalam pespektif ini, mahluk hidup itu berevolusi/berubah sesuai dengan tingkat kerumitan strukturnya, dari yang sederhana perlahan-lahan menjadi yang rumit.

Namun, berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan berbagai marker molekuler, dan penelitian ulang sifat-sifat morfologis, saat ini para ilmuwan menerima pengelompokan hewan yang baru. Pengelompokan yang baru ini menganggap kalau sifat pembentukan coelom itu tidak dapat dijadikan dasar yang kuat untuk mengelompokan ketigapuluh sekian phyla hewan. Banyak hewan-hewan yang dianggap primitif malah memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan hewan yang dianggap sangat modern (Adoutte dkk., 2000; Halanych, 2004; Philippe dkk., 2005; 2007 dalam Hadryanto, 2008).

Misalnya, pada Gambar B dapat dilihat bahwa pengelompokan hewan dibagi menjadi dua, non-bilaterian [(3 kelompok dalam kotak kuning; Ubur-ubur sisir (Ctenophora), Ubur-ubur (Cnidaria), dan hewan karang (Porifera)] dan Bilateria (hewan yang simetris sisi kiri dan kanannya). Hewan Bilateria ini terbagi lagi menjadi 2 kelompok berdasarkan pola perkembangan embrionya: Deuterostomia (termasuk di dalamnya: vertebrata), dan Protostomia. Protostomia kemudian terbagi lagi menjadi 2 kelompok besar, Lophotrochozoa dan Ecdysozoa.

Jika diperhatikan dan dibandingkan dengan lebih detail pada Gambar A dan B, dapat ditemukan bahwa banyak hewan-hewan yang sebelumnya dianggap sebagai acoelomata pada gambar A akan tetapi masuk ke dalam Lophotrochozoa pada gambar B, dan hewan-hewan pseudocoelomata pada  gambar A, pada gambar B ada sebagian yang masuk ke Lophotrochozoa, dan ada sebagian yang masuk ke Ecdysozoa (Aguinaldo et al., 1997; Halanych et al., 1995 dalam Hardyanto, 2008). Pengelompokan yang baru ini, yang umumnya berdasarkan hasil studi molekuler, ternyata mampu menjelaskan evolusi berbagai sifat-sifat dan karakter yang ditemukan dalam berbagai phyla hewan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: