Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam KTSP bagi Sekolah Swasta (2)

Posted by Mahmuddin pada Juli 4, 2014

Pentingnya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam Pembelajaran di Sekolah

Menurut Affandi (2009), perencanaan adalah proses penetapan dan pemanfaatan sumber daya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiatan dan upaya yang akan dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Perencanaan dibuat sebagai suatu proyeksi (perkiraan) tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang absah dan bernilai. Perencanaan biasa juga disebut sebagai jembatan yang menghubungkan kesenjangan antara keadaan masa kini dan keadaan yang diharapkan terjadi pada masa yang akan datang. Perencanaan berkaitan dengan penentuan hal yang akan dilakukan, arah tujuan yang dicapai, dan mengidentifikasikan persyaratan yang diperlukan serta cara yang paling efektif dan efisien dalam mencapainya.

Dalam hubungan dengan perencanaan pembelajaran, Ibrahim (1993 dalam Affandi, 2009) mengemukakan bahwa secara garis besar perencanaan pembelajaran mencakup kegiatan merumuskan tujuan apa yang akan dicapai oleh suatu kegiatan pembelajaran, cara apa yang dipakai untuk menilai pencapaian tujuan tersebut, materi-bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, serta alat atau media apa yang diperlukan. Dengan perencanaan pembelajaran, guru dapat memperkirakan, mempersiapkan, dan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan pada waktu proses pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini, guru mempersiapkan segala sesuatunya agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in Pembelajaran, Pendidikan | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 1 Comment »

Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam KTSP bagi Sekolah Swasta (1)

Posted by Mahmuddin pada Juli 4, 2014

1. Latar Belakang

Sejak implementasi Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah, dunia pendidikan merupakan bidang yang mengalami penyesuaian dalam penyelenggaraanya. Salah satu aspek yang berkembang saat ini adalah kewenangan daerah untuk memberdayakan potensi daerah dalam membangun sistem pendidikan yang bermuatan lokal kurikulum. Penyelenggaraan pendidikan ini berimplikasi pada pengembangan manajemen berbasis sekolah. Dalam hal ini, di antara kewenangan yang lebih besar diberikan kepada sekolah adalah pengembangan kurikulum yang kemudian disebut kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

Dalam penyusunan KTSP, pemerintah pusat memberi rambu-rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan kurikulum. Rambu-rambu ini ditegaskan dalam bentuk Undang-undang tentang sistem nasional pendidikan, Peraturan Pemerintah tentang standar nasional pendidikan, dan panduan dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Khusus panduan BSNP, disusun dengan terdiri atas dua bagian. Pertama, panduan umum tentang pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan. Kedua, model KTSP sebagai satu contoh alternatif hasil akhir pengembangan KTSP (Muhaimin, dkk. 2009). Baca entri selengkapnya »

Posted in Pembelajaran, Pendidikan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Fase-fase Pembelajaran Berbasis Lingkungan yang Mengintegrasikan Pendidikan Karakter

Posted by Mahmuddin pada Juni 11, 2013

Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan pembelajaran perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan pengembangan pembelajaran oleh Badan Standar Nasional Pendidikan, kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Beban belajar yang dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA terdiri dari 45 menit/jam tatap muka untuk tugas terstruktur, sedangkan kegiatan mandiri tidak terstruktur memanfaatkan 0% – 60% dari waktu kegiatan tatap muka. Namun demikian, tugas terstruktur dan tugas mandiri dapat saja dilakukan di luar jam belajar efektif, akan tetapi tetap harus dalam perencanaan oleh guru.

Kegiatan tatap muka penting bukan hanya untuk kegiatan saat tatap muka, tetapi juga menentukan terlaksananya kegiatan tugas terstruktur serta kegiatan mandiri tidak terstruktur. Kegiatan belajar tatap muka dapat menggunakan metode apapun, disesuaikan dengan kebutuhan pencapaian kompetensi berdasarkan hasil analisis SK/KD. Untuk pembelajaran berbasis lingkungan yang mengitegrasikan nilai karakter bangsa digagas melalui empat fase pembelajaran yang bersifat holistik. Keempat fase pembelajaran yang dimaksud dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Mengeksplorasi, meliputi kegiatan studi pustaka, observasi lapangan, survey komunitas, dan percobaan laboratorium. Untuk fase ini, dapat dilakukan dalam bentuk pertemuan tatap muka dan tugas terstruktur.
  2. Mengonseptualisasi, meliputi kegiatan analisis fakta, menginterpretasi data, elaborasi fakta/informasi, eksplanasi, penerapan pengetahuan pada konteks berbeda. Fase ini dilakukan dapat terintegrasi dengan fase eksplorasi, dan dapat pula dalam bentuk tugas terstruktur.
  3. Mengeksposisi, meliputi kegiatan komunikasi gagasan, pameran hasil karya. Persiapan gagasan dan hasil karya dilakukan dalam bentuk tugas mandiri, tapi ekposisi dilakukan pada saat jam tatap muka.
  4. Mengevaluasi, meliputi menguji pengetahuan, mengukur sikap dan psikomotorik, merefleksi proses belajar, menilai fakta dan gagasan. Fase ini dilaksanakan secara terintegrasi dalam pertemuan tatap muka.

Fase-fase pembelajaran di atas dapat digambarkan dalam bentuk siklus pembelajaran sebagai berikut:

Posted in Pembelajaran, Pendidikan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Tahapan-tahapan Pengembangan Pembelajaran Berbasis Lingkungan yang Mengintegrasikan Pendidikan Berbasis Lingkungan

Posted by Mahmuddin pada Juni 11, 2013

Mengintegrasikan pendidikan karakter dalam mata pelajaran dilakukan melalui proses belajar dengan kegiatan yang dirancang sedemikian rupa sehingga memfasilitasi siswa mengenal nilai-nilai. Pada dasarnya, setiap kegiatan belajar biologi mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Oleh karena itu, tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pada pendidikan karakter bangsa.

Meskipun demikian, pembelajaran perlu dikembangkan menanamkan nilai-nilai tertentu seperti kerja keras, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan gemar membaca. Untuk pengembangan beberapa nilai lain seperti peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif memerlukan upaya pengkondisian sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai-nilai itu (Depdiknas, 2010). Baca entri selengkapnya »

Posted in Pembelajaran, Pendidikan | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Konsep Pembelajaran Berbasis Lingkungan yang mengintegrasikan Pendidikan Karakter Bangsa

Posted by Mahmuddin pada Juni 10, 2013

Berdasarkan teori belajar yang telah diuraikan sebelumnya, maka pembelajaran yang berbasis lingkungan dalam tulisan ini didefinisikan sebagai pembelajaran yang menggunakan lingkungan sebagai sumber dan objek belajar. Dalam hal ini, pembelajaran mengarahkan siswa pada upaya mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang dihadapi. Pembelajaran berbasis lingkungan mengarakan siswa menemukan makna di dalam setiap tugas belajar.

Setiap tugas belajar dalam pembelajaran berbasis lingkungan, siswa belajar menemukan masalah yang menarik di lingkungan, membuat pilihan dan menerima tanggung jawab, mencari informasi/data dan menarik kesimpulan. masalah yang menarik. Sehubungan dengan itu, dalam proses belajar yang dilakukan siswa secara aktif akan memilih, menyusun, mengatur, menyentuh, merencanakan, menyelidiki, mempertanyakan, dan membuat keputusan. Dalam proses tersebut, siswa akan mengaitkan isi akademis konten pelajaran biologi dengan konteks dalam situasi kehidupan.

DSC_0128

Menurut Johnson (2007) mengaitkan konten dan konteks membutuhkan proses dan struktur berpikir. Dalam pembelajaran biologi, hal ini dikenal dengan penggunaan keterampilan proses sains. Melatih siswa menggunakan keterampilan proses akan mendukung terbentuknya struktur berpikir dengan cara-cara ilmiah. Proses yang akan melibatkan penggunaan alat indera dan proses berpikir sistematis lainnya. Dengan demikian, proses pembelajaran akan mengantarkan siswa pada penemuan arti penting suatu topik pembelajaran.

Ketika penemuan makna terakomodasi dalam skema berpikir siswa, maka internalisasi dalam diri ini akan membentuk sikap diri serta menentukan pilihan perilaku diri dan tindakan dalam kehidupannya. Menurut Johnson (2007) secara biologis dan psikologis, lingkungan memberikan informasi yang membentuk struktur fisik otak. Lingkungan akan menjadi stimulus bagi terbentuknya hubungan sinapsis sehingga terbangun jalur-jalur saraf yang kompleks sehingga akan meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan kecerdasan. Dengan demikian, komunikasi antar alat indera dengan lingkungan akan membentuk konteks belajar akan membentuk stuktur berpikir, bersikap dan bertindak yang dalam jangka waktu tertentu akan membentuk karakter bagi diri siswa.

Posted in Pembelajaran, Pendidikan | Dengan kaitkata: , , | 2 Comments »