Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Posts Tagged ‘Pendekatan Pembelajaran’

Pendekatan Inkuiri dalam Pembelajaran

Posted by Mahmuddin pada November 10, 2009

Inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pembelajaran inkuiri beriorientasi pada, keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.

Ada tiga ciri pembelajaran inkuiri, yaitu pertama, Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan (siswa sebagai subjek belajar). Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.

Menurut Sanjaya (2009), penggunaan inkuiri harus memperhatikan beberapa prinsip, yaitu berorientasi pada pengembangan intelektual (pengembangan kemampuan berfikir), prinsip interaksi (interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan), prinsip bertanya (guru sebagai penanya), prinsip belajar untuk berfikir (learning how to think), prinsip keterbukaan (menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan).

Prinsip – prinsip Penggunaan Inkuiri

a. Berorientasi pada pengembangan intelektual

Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan strategi inquiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.

b. Prinsip Interaksi

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. 

c. Prinsip Bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan model inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.

d. Prinsip Belajar untuk Berpikir

Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.

e. Prinsip Keterbukaan

Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.

Dalam implementasinya, pembelajaran inkuiri memiliki sintaks sebagai berikut:

  1. Menyajikan pertanyaan atau masalah: Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok.
  2. Membuat hipotesis: Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan  dengan permasalahan  dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.
  3. Merancang percobaan Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan.
  4. Mengumpulkan dan menganilisis data: Guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
  5. Membuat kesimpulan: Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.

Sedangkan menurut Sudjana (1989), ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pembelajaran inkuiri, yaitu :

  1. Merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa
  2. Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis
  3. Mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab hipotesis atau permasalahan
  4. Manarik kesimpulan atau generalisasi
  5. Mengaplikasikan kesimpulan

Berdasarkan tingkat kematangan siswa, pendekatan inkuiri dapat dilakukan dalam lima tingkatan, yaitu inkuiri tradisional, inquiri terbimbing, inkuiri mandiri, keterampilan prosedur ilmiah, Penelitian siswa. Terdapat tiga aspek yang sama penting dalam pembelajaran, yaitu tujuan pembelajaran, Kegiatan Belajar/Mengajar dan materi, hasil evaluasi. Proses yang baik diasumsikan akan mendapatkan hasil yang baik. Proses belajar yang efektif harus melibatkan sebanyak mungkin alat indera. Pendekatan inkuiri, melibatkan semua indera sehingga pengetahuan siswa akan menjadi tahan lama. Perumusan indikator, harus memikirkan efek samping terutama pada tahapan perkembangan psikologi siswa. Kelemahan pendekatan inkuiri (kekacauan pembelajaran), dapat terjadi kalau guru tidak melakukan pembimbingan secara terarah dan bertanggung jawab. Guru penting melakukan monitoring atau pengontrolan terhadap aktivitas siswa.

Posted in Pembelajaran | Dengan kaitkata: , , , | 32 Comments »

Memilih Strategi Belajar Mengajar yang Tepat

Posted by Mahmuddin pada Oktober 29, 2009

Strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesasan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan J.R. David (1976): Strategy a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal, sehingga dapat diartikan sebagai suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan. Ada dua hal yang perlu dicermati dalam ini, yaitu: pertama, strategi pembelajaran merupakan rancangan tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk rancangan penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dick dan Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar siswa. Baca entri selengkapnya »

Posted in Pembelajaran | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 2 Comments »

Manfaat Pembelajaran Multimodel bagi Pencapaian Kompetensi Anak (4)

Posted by Mahmuddin pada Oktober 21, 2009

Pembelajaran multimodel pada prinsipnya merupakan pendekatan pembelajaran yang secara komprehensif mempertimbangkan kondisi psikologi perkembangan anak, materi pelajaran sebagai objek dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Secara teoritis, pembelajaran multimodel berupaya mengimplementasikan berbagai teori dan prinsip belajar yang telah ada serta mengakomodasi potensi dan modalitas siswa dalam belajar (gaya belajar). Menurut DePotter dan Hernacki (2002), secara umum ada dua kategori utama dalam belajar, yaitu bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah dan cara kita mengatur dan mengolah informasi tersebut. Gaya belajar tersebut, kemudian dibedakan menjadi modalitas visual, auditorial dan kinestetik.

Berdasarkan tahapan belajar yang dikemukakan dalam tulisan  seri (3), maka partisipasi siswa dalam pembelajaran multimodel dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Siswa turut berpartisipasi dalam merumuskan tujuan pembelajaran, proses ini diharapkan dapat membangun partisipasi siswa selama proses pembelajaran. Dengan keterlibatan dalam perumusan ujuan di awal proses belajar, maka tujuan belajar merupakan milik siswa sehingga mereka akan memiliki rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.
  2. Siswa berpartisipasi dalam mengorganisir kelompok, mengatur peran diri masing-masing dan bekerja sama dalam mencapai target. Hal ini dapat menguatkan kesan bahwa siswalah yang menjadi pemeran utama dalam proses belajar. 
  3. Siswa berpartisipasi sebagai sumber informasi bagi orang lain/kelompok lain. Ketika siswa mengkomunikasikan hasil kerja/pikirannya, memberikan kesan bahwa siswa memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar di kelas sehingga dapat menguatkan rasa percaya diri dan semangat untuk menampilkan karya terbaik. 
  4. Siswa berpartisipasi dalam penilaian. Ketika siswa dilibatkan dalam proses menilai diri mereka  dan menilai orang lain/kelompok lain, memberikan kesan penghargaan yang tinggi dalam menentukan keberhasilan belajar. Baca entri selengkapnya »

Posted in Pembelajaran | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 3 Comments »

Implementasi Pembelajaran Multimodel dalam Pembelajaran(3)

Posted by Mahmuddin pada Oktober 21, 2009

Pada pembelajaran multimodel, situasi kelas yang tergambar dikelola dengan sangat baik dan kondusif. Proses belajar sangat mengutamakan adanya interaksi dan kerjasama yang baik antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa secara demokratis sehingga proses pembelajaran sangat dinamis. Peran guru sebagai fasilitator belajar sangat vital dalam mencairkan suasana, mengontrol efektivitas tahapan-tahapan pembelajaran serta mengantar siswa melewati transisi dalam berpindah tahapan. Pendelegasian sebagian peran kepada siswa, semakin memberikan suasana kelas yang memiliki atmosfer belajar.

Fase-fase/Tahapan dalam Pelaksanaan Pembelajaran Multimodel

Pada pembelajaran multimodel, tahapan pembelajaran tidak bersifat permanen tetapi sangat ditentukan oleh konten/materi bahan pelajaran dan situasi kelas yang ingin diciptakan oleh guru.  Tahapan dalam proses belajar dengan pembelajaran multimodel sangat memungkinkan terjadinya kombinasi tahapan antar model-model pembelajaran yang telah ada. Prinsip dalam penyusunan tahapan pembelajaran adalah tujuan yang ingin dicapai, pengalaman belajar yang diharapkan, partisipasi siswa dalam belajar, efektivitas dalam mengelola waktu. Namun demikian, salah satu bentuk implementasi pembelajaran multimodel dapat dikemukakan dalam bentuk fase-fase pembelajaran, sebagai berikut:   Baca entri selengkapnya »

Posted in Pembelajaran | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 2 Comments »

Hakekat Pembelajaran Multimodel (2)

Posted by Mahmuddin pada Oktober 21, 2009

Dalam sejarah perkembangan dunia pendidikan, telah dihasilkan berbagai teori pendekatan dalam praktik pembelajaran. Pendekatan dalam praktik pembelajaran disebut sebagai model pembelajaran. Menurut Joyce et. al. (1992), istilah model digunakan karena dua alasan penting, yaitu makna dan fungsinya.

Pertama, istilah model mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. Istilah model pengajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya, problem-based model of instruction (model pengajaran berdasarkan permasalahan), meliputi kelompok-kelompok kecil siswa bekerjasama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati bersama. Dalam model ini, siswa seringkali menggunakan bermacam-macam keterampilan dan prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Jadi, suatu model pengajaran dapat menggunakan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural, seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan, melakukan penelitian, berdiskusi dan memperdebatkan temuan, bekerja secara kolaboratif, menciptakan karya seni, dan melakukan presentasi. Kedua, model pengajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting, apakah yang dibicarakan adalah tentang mengajar di kelas, suatu konsep tertentu, atau kegiatan praktikum. Baca entri selengkapnya »

Posted in Pembelajaran | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »