Mahmuddin

Belajar dan Berbagi

Posts Tagged ‘pendidikan kewirausahaan’

Pergeseran Paradigma Kewirausahaan

Posted by Mahmuddin pada Desember 15, 2010

Menurut Timmons (2008:31), gambaran klasik kewirausahaan adalah perusahaan pemula yang masih mentah, dimulai dengan ide usaha yang kemudian berkembang menjadi suatu perusahaan besar. Contohnya, Microsoft, Netscape, Amazon.com, Sun Microsystem, Home Depot, McDonald’s, Compaq Computer, Intuit, Staples, dan ratusan contoh lain yang telah menyandang nama besar. Kesuksesan, selain kepemimpinan yang kuat dari seorang wirausahawan, selalu melibatkan tim dengan keahlian yang mendukung. Kemampuan untuk bekerja sama sebagai tim dan kemampuan menangkap peluang bisnis di tengah-tengah kontradiksi, kekacauan, dan kebingungan adalah kunci kesuksesan.

Kewirausahaan juga membutuhkan keterampilan dan kepintaran untuk mencari dan mengontrol sumber daya, yang biasanya dimiliki orang lain, untuk meraih peluang. Artinya perusahaan tidak boleh kehabisan dana di saat-saat kritis. Kebanyakan kewirausahaan sukses memiliki tim dan penyandang dana untuk menangkap peluang yang tidak dikenali orang lain.

Namun dalam perkembangannya, perusahaan-perusahaan besar tersebut di atas banyak mengalami keruntuhan atau masalah internal perusahaan. Akan tetapi, disebabkan oleh munculnya pesaing-pesaing baru dari perusahaan pemula. Perusahaan raksasa seperti IBM dihempaskan oleh Apple Computer dan kemudian Microsoft Equipment Corporation. Mereka yang dianggap tidak terkalahkan, akhirnya dirontokkan oleh perusahaan pemula. Peristiwa ini memaksa perusahaan raksasa pada tahun 1980-an melakukan perampingan sampai pada tahun 2000-an. Contoh dalam kasus ini, perusahaan Fortune 500 meniadakan sebanyak 900.000 pekerjaan hingga bulan oktober 2001. Baca entri selengkapnya »

Posted in Entrepreneurship | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

NEW VENTURE CREATION (Review BAB 2); PROSES KEWIRAUSAHAAN

Posted by Mahmuddin pada Oktober 19, 2010

Kewirausahaan adalah  suatu cara berpikir, menelaah, dan bertindak yang didasarkan pada peluang bisnis, pendekatan holistik, dan kepemimpinan yang seimbang. Oleh karena itu, proses kewirausahaan menuntut kemauan untuk mengambil resiko yang telah diperhitungkan, sehingga dapat mengatasi rintangan menuju kesuksesan secara konstan, atau menyeimbangkan risiko dengan imbalan yang akan diperoleh. Wirausahawan membawa cita-cita, motivasi, komitmen, semangat, keuletan, integritas, semangat kerja sama, dan visi ke dalam perusahaan. Timmons dan Spinelli menggambarkan bahwa kewirausahaan bukan lagi seperti perusahaan pemula yang masih mentah, dimulai dengan ide usaha yang kemudian berkembang menjadi suatu perusahaan besar. Akan tetapi kewirausahaan berkaitan dengan menciptakan peluang bisnis baru, mengambil resiko yang sudah diperhitungkan, dengan menggunakan sumber daya yang terbatas. Dengan demikian, kewirausahaan tidak lagi bersifat fisik tetapi lebih bersifat pada karakter.

Seorang wirausahawan memiliki daya improvisasi cepat dan mampu menciptakan hal baru. Dunia kewirausahaan dan proses kewirausahaan memiliki kompleksitas dan dinamika dalam menyeimbangkan risiko dan imbalan serta mental yang harus dihadapi. Bagaikan permainan golf, membutuhkan fisik yang kuat, tetapi juga lembut, mental juara, sabar, disiplin, dan menguasai emosi, melelahkan tetapi juga memuaskan. Wirausahawan seperti konduktor orkes simfoni, yang harus menyatukan dan menyeimbangkan orang dengan kepribadian, talenta, dan kemampuan berbeda menjadi suatu tim yang indah. Keterampilan wirausahawan bagaikan seorang pemain acrobat yang berusaha menjaga bola-bola tetap berputar di udara sambil dia melompat pada trampolin. Baca entri selengkapnya »

Posted in Entrepreneurship, Manajemen, Pendidikan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Aktivasi Dini DNA Entrepreneurship melalui Pembelajaran Inovatif

Posted by Mahmuddin pada Oktober 19, 2010

Mengembangkan potensi anak melalui pembelajaran dapat dilakukan dengan melalui pendekatan yang dapat menstimulasi kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan prosedur yang sistematis. Pengalaman menyelesaikan berbagai masalah, dapat diartikan berkembangnya wawasan anak yang berimplikasi pada kreativitas. Kreatif merupakan karakter yang sangat mendasar untuk menjadi seorang enterpreneur. Menurut Antonius Tanan, benih-benih enterpreneurship dapat dikembangkan pada diri anak sejak kecil, yaitu dengan cara mengembangkan kreativitas. Dalam hal ini, pembelajaran harus memiliki pola orientasi yang mengembangkan kemampuan berpikir anak, sehingga dapat berimplikasi secara sistemik dalam kognitif anak untuk selanjutnya menjadi karakter.

Karakter penting dalam wirausaha adalah kreativitas dan komitmen untuk realisasi. Pendidikan kewirausahaan harus mencakup pola piker, pengembangan keterampilan dan pembekalan pengetahuan. Di samping itu, pendidikan wirausaha tidak selalu harus berkaitan dengan bisnis. Akan tetapi wirausaha juga berkaitan dengan bidang sosial. Menurut Dwi Larso (2010), orientasi lulusan sekolah menengah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sampai sekolah menengah atas (SMA), dan kejuruan (SMK) di Indoensia masih untuk mencari kerja bukan sebagai wirausaha. Sedangkan di perguruan tinggi, pendidikan kewirausahaan hanya diberikan dalam bentuk mata kuliah atau pendidikan ekstrakurikuler yang hanya dilakukan selama tiga tahun.  Situasi ini, sangat berat melahirkan wirausahawan secara instan. Pola pikir wirausaha harus dibentuk dengan jangka panjang. Oleh karena itu, pendidikan wirausaha seharusnya diberikan sejak dini untuk menanamkan pola pikir untuk berwirausaha. Baca entri selengkapnya »

Posted in Pembelajaran, Pendidikan | Dengan kaitkata: , , , , | 3 Comments »